Home › Nasional › Menara Untuk Negeri: Ketika Baja Telekomunikasi Menghidupkan Asa di Akar Rumput

Menara Untuk Negeri: Ketika Baja Telekomunikasi Menghidupkan Asa di Akar Rumput

REALITAPOST.COM, JAKARTA — Dari kejauhan, menara-menara telekomunikasi milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) tampak gagah merajut cakrawala, berdiri tegak menembus langit di berbagai pelosok daerah. Ratusan ton besi baja dan kabel fiber optik itu berdenyut setiap detik, memancarkan sinyal gelombang elektromagnetik yang menghubungkan bilik-bilik sunyi pedesaan dengan kencangnya arus informasi global.

Namun, jika kita mengalihkan pandangan dari angkasa ke bawah tanah—tepat di kaki-kaki menara tersebut—sebuah narasi yang jauh lebih membumi tengah berlangsung. Di sanalah infrastruktur tidak sekadar menjadi besi tua pemancar sinyal, melainkan jembatan peradaban yang merangkul kehidupan warga melalui pilar kesehatan, pendidikan vokasi, hingga pemberdayaan ekonomi inklusif dan Lingkungan.

Salah satu upaya untuk mempertemukan kebutuhan pendidikan dan industri dilakukan Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG) melalui pelatihan infrastruktur telekomunikasi dan serat optik bagi sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Belum lama ini di TBIG Learning Centre, Karawaci, Banten, peserta mempelajari teknologi serat optik dan fiber to the home (FTTH). Mereka juga mengikuti praktik pengenalan perangkat dan fungsinya serta melihat penerapan teknologi secara langsung di TBIG Lab.

Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An, mengatakan pengalaman belajar yang terhubung dengan praktik industri penting agar mahasiswa memahami penerapan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

“Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mempraktikkan secara langsung apa yang selama ini mereka pelajari secara teori. Karena itu, selain materi teknis, kami juga memberikan pembekalan soft skill agar mereka lebih siap menghadapi dunia kerja,” ujar Lie Si An.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan dan keterampilan mahasiswa agar mampu mengikuti perkembangan teknologi infrastruktur telekomunikasi.

“Melalui pelatihan ini diharapkan peserta dapat meng-upgrade skill dan pengetahuan mereka mengenai teknologi terbaru di infrastruktur telekomunikasi dan fiber optic,” katanya.

Sementara itu, Head Of CSR Departemen TBIG, Arief Wibosono, sebagai perusahaan besar TBIG mengikuti regulasi yakni ISO 26000 dan SDGs sehingga setiap program CSR yang dijalankan tidak berdiri sendiri dengan melibatkan banyak pihak sebagai sebuah konsep pemberdayaan.

Lantas ada pertanyaan besar publik, kenapa TBIG konsen dalam upaya melaksanakan salah satu program di bidang pendidikan? Hal itu dijelaskan Arief, saat ini Indonesia tengah mengalami transformasi digital sangat besar yang disertai infrastruktur digital yang terus berkembang sehingga menimbulkan konsekuensi adanya perkembangan SDM yang besar pula. Jika tidak, maka akan menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia itu sendiri nantinya.

Sehingga TBIG menganalisa bahwa berdasarkan data BPS, pada 26 Februari 2026, angka jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) Nasional turun diangkat 4,68 persen. Namun jumlah lulusan SMK yang belum terserap dunia kerja relative tinggi diangka 7,74 persen secara Nasional. Kenapa itu bisa terjadi, tentu ini menjadi tantangan bagi sekolah kejuruan dan semua pihak termasuk TBIG ikut andil dan berkontribusi agar kebutuhan SDM bisa sejalan dengan kebutuhan industri saat ini. Sehingga program, kurikulum dan vokasi yang disusun harus menyesuaikan kebutuhan perusahaan.

Kepala program Teknik Komputer Jaringan SMK Sebelas Maret, Muhammad Andika Prawira, mengakui bahwa data yang dirilis BPS terkati TPT disektor lulusan SMK menjadi atensi khusus bagi pihak sekolah SMK sehingga setelah adanya kerjasama CSR dari TBIG. Maka kurikulum dari Pemerintah yang selama ini diterapkan mulai dikolaborasikan dengan kurikulum dari Perusahaan TBIG, khususnya terkait kebutuhan teknis dari perusahaan tersebut.

Sebagai wujudnya nyata kerjasama kurikulum tersebut, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang kini dimiliki SMK Sebelas Maret sudah menjadi pionir dalam Uji BNSP dengan memasukan materi teknis perancangan kabel fiber optik.

“Kalau sebelumnya hamper semua LPS P1 dan BNSP SMK di Jakarta, tidak ada yang menggunakan fiber optik tapi menggunakan kabel UTP dan Microtik pada materi uji saat itu. Kini dengan adanya kolaborasi dengan TBIG, SMK kita bisa menjadi pelopor Uji BNSP,” ujar Andika.

Menjangkau Kesehatan hingga Pelosok Desa

Kontras antara gemerlap teknologi modern dan realitas sosial di akar rumput dijembatani oleh komitmen nyata korporasi. Melalui program pilar kesehatan yang diusungnya, TBIG secara konsisten memobilisasi layanan kesehatan preventif dan kuratif langsung ke kantong-kantong masyarakat rentan.

Sebagai catatan dampak, inisiatif layanan kesehatan keliling dan edukasi pola hidup bersih ini telah sukses menjangkau ribuan warga di berbagai wilayah operasional. Tercatat lebih dari 1.200 warga di satu wilayah regional saja pernah merasakan langsung manfaat pemeriksaan kesehatan gratis dan edukasi sanitasi, sementara dalam momentum khusus seperti aksi kemandirian desa, puluhan hingga ratusan desa di pelosok nusantara berhasil tersentuh program layanan medis dan edukasi gizi secara serentak.

Siti Nur khalifah, salah satu tenaga kesehatan yang dilibatkan Perusahaan TBIG, menjelaskan keterlibatanya dalam kegiatan tersebut antara lain edukasi kepada masyarakat tentang pola hibup sehat dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis diataranya, cek gula darah, tensi, cek kolesterol, dan asam urat.

“Sejauh ini selama kegaitan berlangsung, warga setempat sangat antusias mengikuti kegaitan tersebut. Terbukti banyak warga yang atri untuk melakukan pemeriksaan kesehatan,” singkatnya.

Mengukir Talenta Vokasi dan Inklusivitas Ekonomi

Tidak hanya menjaga kesehatan raga, menara-menara ini turut menaungi masa depan generasi muda dan kelompok rentan. Di sektor pendidikan, TBIG mempersempit jurang kesenjangan digital melalui pengembangan kurikulum vokasi SMK serta penyediaan platform pembelajaran mandiri berbasis digital (e-learning) yang dapat diakses oleh ribuan siswa dan pelaku UMKM tanpa batasan geografis.

Sementara itu, denyut ekonomi sirkular dan inklusivitas sosial tampak nyata lewat program pemberdayaan seperti Rumah Batik TBIG dan pelibatan kelompok difabel. Di sini, para perajin lokal serta penyandang disabilitas diberi ruang untuk berkarya, mengolah limbah botol plastik menjadi produk fesyen bernilai ekonomis tinggi (upcycling), hingga dilatih menguasai teknik pemasaran digital modern.

Membangun Nilai Bersama yang Berkelanjutan

Apa yang dilakukan oleh TBIG membuktikan sebuah filosofi bisnis yang matang: bahwa pembangunan fisik menara telekomunikasi harus berjalan seirama dengan pembangunan manusia di sekitarnya. Melalui integrasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST/ESG) yang terukur—mulai dari ribuan pohon yang ditanam untuk menekan emisi karbon hingga ribuan jiwa yang tersentuh program sosial—TBIG berhasil menerjemahkan slogan “Menara untuk Negeri” bukan sekadar metafora, melainkan sebuah kerja nyata yang mengubah lanskap sosial Indonesia dari hulu hingga hilir.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *