berita realitapost

Dewan Pesimis Capaian Target PAD Rp 416 M Tercapai Bila Kinerja Bapenda Pakai Pola Lama

Bengkulu,Realitapost.com — Pernyataan Kepala Bapenda Kota Bengkulu yang mengaku optimis bisa mencapai target PAD sebesar Rp 416 M tahun 2026 mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Kota Bengkulu.

Salah satu anggota Banggar DPRD Kota Bengkulu Irman Sawiran, menyatakan sikap pesimistis atas realisasi target PAD 2026 sebesar Rp 416 M bilamana pola dan kinerja dari Bapenda Kota Bengkulu masih tidak ada perubahan yang signifikan.

“Saya mencoba umpamakan bila target sebelumnya misal Rp 200 M sampai Rp 400 M dengan asumsi naik lebih 100 persen dengan cara kerja tetap sama maka hasilnya biasanya juga akan mirip tahun lalu, bukan melonjak 2 kali lipat,” jelasnya.

Untuk itulah dia berulang kali menekankan pihak Bapenda Kota untuk mecari pola baru atau terobos baru dengan meninggalkan cara lama demi merealisasikan capaian target yang telah ditetapkan demi menjaga keseimbangan fiskal daerah.

“Karena, bila sistem, pola kerja, dan sumber pendapatan tidak berubah. Lalu Efisiensi bisa dilakukan mungkin bisa naik sedikit, tapi tidak signifikan. Sebab, kenaikan target PAD sebesar itu butuh lonjakan, bukan sekadar perbaikan,” tegasnya.

Selama ini juga dia menilai ada kesalahan umum yang terjadi di banyak organisasi khususnya Bapenda berpikir tinggal kerja lebih keras bisa meraih hasil maksimal. Padahal yang dibutuhkan adalah Kerja berbeda, bukan hanya lebih keras. Lalu Pendekatan baru, bukan pengulangan.

Lantas Irman menambahkan, Jadi apa yang harus diubah?. Untuk mengejar target PAD Rp 400 M lebih biasanya perlu melakukan kombinasi diantaranya Ekstensifikasi (sumber baru), Buka objek pajak/retribusi baru. Digitalisasi untuk menjaring wajib pajak yang belum terdata dan Optimalisasi aset daerah (sewa, kerjasama dan lainnya).

Lalu, intensifikasi (optimasi yang sudah ada) dengan cara Perbaiki sistem penagihan, pengurangan potensi kebocoran PAD, dan didukung Data pajak lebih akurat (integrasi sistem). Kemudian, Transformasi cara kerja dari manual ke digital, dari pasif ke aktif (jemput bola) dan dari administratif berbasis data dan analitik.

Selanjutnya lagi, lata Irman, perlu Kolaborasi dan inovasi seperti Kerjasama dengan swasta atau BUMD dan Skema baru (misalnya KPBU atau monetisasi aset)

“Jadi intinya target besar butuh cara dan pendekatan yang berbeda (non-linear). Kalau target naik 10–20 persen dengan cara lama masih bisa. Tapi bila target naik menjadi 100 persen maka harus ada terobosan yang luar biasa,” paparnya.

Dia bisa memaklumi bila target tahun 2025 target lebih kurang Rp 249 M, dengan cara kerja lama masih cukup relevan. Tapi untuk tahun ini ketika target melonjak tinggi menjadi Rp 416 M maka tidak bisa lagi pakai pola 2025. Harus ada lompatan strategi (transformasi, bukan sekadar optimasi).(Red)

Exit mobile version