HomeArtikel › Inspiratif, Perjuangan 9 Tahun Kopi Bukit Barisan Menembus Pasar Global

Inspiratif, Perjuangan 9 Tahun Kopi Bukit Barisan Menembus Pasar Global

REALITAPOST.COM, BENGKULU TENGAH – Aroma harum kopi yang sedang disangrai menyeruak dari sebuah rumah di Gang Damar, Desa Talang Pauh, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Di sanalah Nasrul (44) sehari-hari menenun mimpinya. Siapa yang menyangka, dari sebuah desa kecil di pesisir Bengkulu ini, kepulan asap kopi lokal miliknya kini berhasil melanglang buana hingga ke Italia—negara yang dikenal sebagai salah satu kiblat kopi dunia.

Perjalanan Nasrul bukanlah cerita sukses yang instan. Tahun 2017 menjadi titik balik yang menguji nyalinya. Di tahun itu, ia mengambil keputusan nekat: banting stir dan resign sebagai karyawan di sebuah perusahaan kopi ternama. Bermodalkan keberanian, insting bisnis, dan modal dari satu bulan gaji terakhirnya, alumni Jurusan Komunikasi Universitas Bengkulu (Unib) angkatan 2004 ini memilih merintis usaha kopi bubuk mandiri yang diberi nama Kopi Bukit Barisan.

“Awalnya saya hanya mencoba membeli 30-60 kilogram biji kopi dari petani di Bang Haji Sekayun,” kenang Nasrul mengingat masa-masa sulitnya ketika diwawancarai secara di rumah produksinya belum lama ini.

Saat itu, jangankan mesin modern, alat sangrai pun ia tak punya. Nasrul harus menumpang giling dan sangrai di tempat orang lain. Biji kopi yang sudah mewujud menjadi bubuk itu kemudian ia bawa pulang ke rumah. Bersama sang istri, ia membungkus kopi tersebut secara manual ke dalam berbagai ukuran dan harga.

Tantangan sesungguhnya baru dimulai saat produk siap jual. Memasarkan merek baru yang belum dikenal orang ternyata sangat menguras mental. Nasrul tak menampik bahwa rasa minder kerap menghantuinya saat mendatangi satu warung ke warung lain. Produk kopinya sering kali dipandang sebelah mata dan hanya laku beberapa bungkus.

 

Namun, darah komunikasi sekaligus bekal sebagai mantan karyawan perusahaan kopi ternama yang mengalir di tubuhnya membuat Nasrul memutar otak. Ia melahirkan sebuah strategi gerilya yang unik yakni membawa produk kopi merek ternama yang sudah pasti laku sebagai “pintu masuk” ke toko dan warung. Saat pemilik toko menyambutnya, Nasrul memanfaatkan momentum itu untuk menawarkan kopi besutannya sendiri.

Kegigihan menembus penolakan demi penolakan itu akhirnya berbuah manis. Perlahan tapi pasti, pasar mulai menerima cita rasa Kopi Bukit Barisan. Setelah satu tahun memeras keringat, keuntungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya mampu dibelikan mesin penggiling seharga Rp 32 juta dan mesin sangrai seharga Rp 4 juta bahkan mesin paking kemasan.

“Alhamdulillah, semua bertahap dari keuntungan usaha. Tanpa bantuan pinjaman bank, saya mencoba tetap mandiri. Kini perbulan saya mampu menghabiskan bahan baku biji kopi 1,5 hingga 2 ton per bulan. Kalau diawal merintis menghabiskan 60 kg perbulan itu luat biasa sulitnya kini jauh lebih mudah,” ujarnya bangga. Seiring waktu, peralatan pengemasan modern pun berhasil ia beli dari kantong sendiri.

Bahkan kini untuk pemasaran, dia sudah mengandeng pihak sales keliling yang sudah dia kenal lama sehingga aneka produk kopinya kini pun dengan mudah dipasarkan  di wilayah Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah dan sebagian di wilayah Bengkulu Utara. Selain itu, produk tersebut sudah bisa ada di market place seperti Shopee, dan medsos lainnya. Sehingga dia setiap bulan tinggal mengkalkulasi kopi yang terjual dan yang tidak.

“Kalau produk kopi kita memilik daya tahan cukup lama dan dipastikan tidak ada campuran bahan pengawet dengan kemasan yang rapi dan terjaga kualitasnya,” terangnya.

Naik Kelas Bersama Bank Indonesia

Titik balik kedua bagi Kopi Bukit Barisan terjadi pada tahun 2021 ketika usaha rumahan ini mulai terlibat dalam komunitas UMKM. Hingga pada tahun 2023, Kopi Bukit Barisan resmi masuk menjadi UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Bengkulu. Sejak saat itu, Nasrul dihujani berbagai pelatihan manajemen, peningkatan kualitas, hingga dilibatkan dalam ajang business matching.

Pihak Bank Indonesia bahkan pernah beberapa kali meninjau langsung rumah produksinya di Bengkulu Tengah. Meski bantuan peralatan sempat tertunda karena usahanya belum bernaung dalam wadah kelompok usaha resmi, Nasrul tidak berkecil hati. Justru hal itu memacunya untuk maju. Saat ini, ia sedang menjajaki kerja sama dengan warga sekitar untuk membentuk kelompok usaha bersama demi pengembangan Kopi Bukit Barisan ke depan.

Kini, setelah sembilan tahun konsisten merawat usaha, Kopi Bukit Barisan telah resmi “naik kelas”. Dari usaha ala kadarnya, kini mereka telah mengantongi legalitas lengkap, mulai dari NIB, P-IRT, Sertifikasi Halal, izin BPOM, hingga hak paten merek (HaKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Yang tak kalah menyentuh, usaha yang awalnya hanya digerakkan oleh sepasang suami istri ini, kini telah memiliki 7 orang karyawan dari masyarakat sekitar. Nasrul telah berhasil membuka lapangan kerja di desanya.

Puncak dari kegigihan itu mewujud pada Senin, 7 September 2026. Melalui kolaborasi strategis dengan PT Alko Sumatera Kopi serta dukungan penuh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu, bahan baku kopi terbaik dari Kopi Bukit Barisan resmi siap dilepas untuk diekspor langsung ke Italia dalam sebuah seremoni di Kabupaten Kepahiang.

Bagi para penikmat kopi, Nasrul menyediakan tiga varian utama Kopi Bukit Barisan yang memiliki karakteristik berbeda. Ada Kopi Bubuk Merah Galo yang menawarkan rasa khas, lalu varian Bukit Barisan yang menjadi produk unggulan (signature), serta varian Kopi Bubuk Lemak Raso yang menjadi best seller karena ramah di kantong namun tetap mempertahankan cita rasa yang nikmat.

Bagi Anda yang penasaran merasakan sensasi kopi Bengkulu yang kini dinikmati oleh warga Eropa, Anda bisa memesannya langsung atau berkunjung ke tempat produksinya.Lokasi Rumah Produksi: Gang Damar, Desa Talang Pauh, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.Kontak Pemesanan (WhatsApp): 0852-6881-8971.

Dari sebuah gang kecil, Nasrul membuktikan bahwa keterbatasan modal awal bukanlah tembok penghalang. Lewat konsistensi, komunikasi, dan mental baja, aroma kopi lokal Bengkulu kini sah menjadi konsumsi dunia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wahyu Yuwana Hidayat memberikan keterangan dalam sesi wawancara disela kegiatan pelatihan barista eksperience kepada puluhan wartawan ekonomi, Selasa sore (8/9/2026).

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Wahyu Yuwana, yang hadir dalam acara pelepasan tersebut menegaskan bahwa momen ini adalah tonggak sejarah baru bagi perekonomian daerah.

“Hari ini, 7 September 2026, kita bisa mengekspor kopi langsung dari Bengkulu ke Eropa, tepatnya Italia. Mudah-mudahan ini terus berlanjut dan menjadi kebiasaan baik yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Wahyu penuh optimisme.

Wahyu menambahkan, peningkatan kualitas dan penguatan citra (branding) kopi Bengkulu harus berjalan beriringan agar nilai tambah ekonominya benar-benar kembali dan dinikmati oleh para petani lokal. BI berkomitmen akan terus mendampingi UMKM melalui akses permodalan dan pelatihan. Khususnya dengan melibatkan pihak perbankan dalam permodalan.

Menariknya, Wahyu juga menantang para jurnalis disela wawancara pada acara pelatihan wartawan ekonomi beberapa waktu silam, yang memiliki minat dan keahlian barista untuk membuka usaha kopi, di mana BI siap membuka akses pengembangan asalkan bergerak dalam kelompok.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *