Home › Ekonomi › Dari 100 Ayam Afkir, Octavico Menyulam Mimpi Menembus Pasar Global

Dari 100 Ayam Afkir, Octavico Menyulam Mimpi Menembus Pasar Global

REALITAPOST.COM, BENGKULU – Pagi di Desa Kesambe Lama, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong, tidak hanya dimulai dengan suara aktivitas warga. Dari sebuah kandang, ribuan suara ayam menjadi penanda kesibukan Octaviko menjalankan usaha yang dirintisnya sejak akhir 2018.

Hari ini, kandang itu telah dihuni sekitar 1.000 ekor ayam petelur, dengan produksi mencapai sekitar 25 karpet telur per hari. Namun, perjalanan menuju angka tersebut tidak dimulai dari kandang besar, modal besar, ataupun pasar yang luas. Semuanya bermula dari 100 ekor ayam afkir.

Pada akhir 2018, Octaviko membeli ayam afkir dari peternak di sekitar tempat tinggalnya. Saat itu, ia belum memiliki konsep bisnis yang besar. Ia belajar mengenali karakter ayam petelur sambil menjual hasil produksi ke pasar. Setiap hari, sekitar 50 hingga 60 butir telur berhasil dikumpulkan dan dipasarkan.

Ada banyak tantangan sebagai peternak diantaranya menjaga kesehatan ayam, mengatur pakan, mempertahankan produksi hingga menemukan pasar. Namun, lebih dari setahun Octavico tetap bertahan. Memasuki 2020, jumlah ayam mulai bertambah. Sebagian telur bahkan mulai ditetaskan untuk menghasilkan bibit DOC (Day Old Chick).

Perlahan, usaha yang awalnya sederhana itu berubah menjadi peternakan dengan konsep yang lebih terarah, yakni pengembangan telur herbal omega 9.

Perubahan terbesar dalam perjalanan usaha Octaviko justru terjadi ketika ia mulai berkenalan dengan program pengembangan UMKM Bank Indonesia. Pada 2019, ia sebenarnya sudah diperkenalkan dengan Bank Indonesia. Namun, saat itu ketertarikannya belum tumbuh.

Kegigihan Octaviko dalam membangun usaha dari sederhana keliling memasarkan telur hasil ayam ternaknya.

Pada 2022, Bank Indonesia membuka program kurasi UMKM. Setahun kemudian, pada 2023, Octavico berhasil lolos kurasi dan mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan serta pendampingan.

Sebelumnya, ia mengakui cara berpikir dan sistem pembukuannya masih sederhana. Usaha dijalankan dengan pola pikir konvensional yakni menghasilkan produk, menjual, lalu berharap usaha terus berjalan.

Ia mulai memahami bahwa membangun bisnis membutuhkan sistem, pencatatan, strategi pemasaran, pengembangan produk hingga kemampuan membaca pasar usai mendapatkan gemblengan secara masif dari Bank Indonesia.

“Yang paling berkesan dari program Bank Indonesia adalah perubahan cara berpikir. Tidak lagi hanya menjual produk dan mengharapkan bantuan. Kita harus mampu mengembangkan produk sendiri dan bagaimana usaha itu bisa naik kelas,” ujar Octaviko, ditemui wawancara disela kegiatan Ekspor Kopi Bengkulu di Kepahiang, Senin (7/9/2026).

Bagi Octaviko, membangun bisnis telur omega tidak cukup dengan membeli ayam kemudian menjual telurnya.

Peternak harus memahami kesehatan ayam, kebutuhan nutrisi, pemberian pakan dan air, pencahayaan, vaksinasi, biosecurity hingga pencatatan produksi. Kebersihan dan biosecurity menjadi rutinitas karena kondisi kandang berpengaruh terhadap kesehatan dan produktivitas ayam.

Tentu banyak pertanyaan yang muncul diantaranya, Berapa telur yang dihasilkan?, Berapa banyak pakan yang dikonsumsi?, Berapa telur yang rusak?, Berapa biaya produksi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena data produksi menjadi dasar untuk menghitung harga pokok produksi dan menentukan arah pengembangan usaha.

Dari sinilah usaha peternakan mulai bergerak dari sekadar aktivitas produksi menjadi sebuah bisnis yang dikelola berdasarkan data. Kisah Octaviko menjadi gambaran bagaimana pendampingan UMKM diarahkan untuk mendorong pelaku usaha naik kelas.

Kini produknya telah menjangkau pasar Curup, Kepahiang, Bengkulu, Lubuklinggau hingga Jambi. Penjualan juga mulai masuk ke marketplace dan media sosial. Dari kandang yang dahulu hanya menghasilkan puluhan telur sehari, Octaviko mulai membangun sebuah bisnis pangan yang tidak lagi hanya bergantung pada penjualan telur secara konvensional.

Ia mulai menjajaki pasar luar negeri, termasuk Jepang, Singapura dan Malaysia. Namun, kapasitas produksi yang masih terbatas membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan untuk produk telur. Peluang justru dialihkan pada produk turunan lain. Kotoran ayam dari peternakannya diolah menjadi pupuk organik, yang kemudian mulai dijajaki untuk dikirim ke Brunei Darussalam dan Vietnam.

Di situlah Octaviko mulai memahami bahwa bisnis peternakan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi, tetapi bagaimana setiap bagian dari proses dapat menciptakan nilai ekonomi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan pengembangan UMKM dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kematangan usaha melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, kapasitas dan pembiayaan.

Pendampingan dimulai dari pemetaan potensi dan asesmen, penyusunan rencana bersama stakeholder, implementasi program hingga monitoring dan evaluasi.

Dalam roadmap BI, UMKM dipetakan dalam tahapan Tumbuh, Adaptif, Mandiri hingga Passing Out, dengan penilaian meliputi produksi, pemasaran, kelembagaan, sumber daya manusia dan keuangan.

“Pada tahap awal, kami memperkuat fundamental usaha, seperti legalitas, kualitas produksi, pencatatan keuangan, kemasan dan pengenalan pasar. Ketika usaha berkembang, pendampingan diarahkan pada SOP, inovasi, digitalisasi pemasaran, perluasan pasar, sertifikasi dan penguatan jejaring,” kata Wahyu.

Dari sisi korporatisasi, UMKM didorong terhubung dengan offtaker, kelompok usaha, agregator dan mitra strategis. Sementara kapasitas diperkuat melalui pendampingan tenaga profesional yang mencakup kewirausahaan, kualitas produk, branding, pemasaran digital hingga pengelolaan keuangan.

Untuk pembiayaan, BI mendorong penggunaan SIAPIK (Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) agar UMKM memiliki pencatatan yang lebih tertib dan semakin bankable sebelum dihubungkan dengan perbankan maupun lembaga pembiayaan.

Jalan Panjang Menuju Ekspor

Bagi UMKM yang diarahkan menuju pasar global, BI membaginya dalam tiga kategori, yakni Semangat Ekspor, Potensi Ekspor dan Siap Ekspor. Pada tahap Semangat Ekspor, pelaku usaha diperkuat dari sisi fundamental, kualitas dan legalitas.

Tahap Potensi Ekspor diarahkan pada standardisasi, sertifikasi, peningkatan kapasitas produksi serta pemenuhan persyaratan negara tujuan. Sedangkan UMKM yang telah berada pada tahap Siap Ekspor didorong melalui market intelligence, pencarian buyer, business matching, jejaring agregator hingga fasilitasi realisasi ekspor.

Pendekatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, Disperindag, Bea Cukai, Balai Karantina, perbankan, asosiasi, agregator dan berbagai stakeholder.

Pada 2026, Bengkulu berhasil merealisasikan ekspor perdana 19,2 ton kopi Robusta ke Italia. Bagi BI, capaian tersebut menunjukkan bahwa produk lokal memiliki peluang masuk ke pasar global ketika kualitas, kapasitas, legalitas, kontinuitas dan akses pasarnya dipersiapkan.

Bukan Hanya Produksi, tetapi Kontinuitas

Wahyu menyebut tantangan UMKM Bengkulu masih cukup beragam. Mulai dari kelembagaan dan legalitas, kualitas dan kapasitas produksi, bahan baku, sarana prasarana, keterampilan, pembiayaan, digitalisasi, hingga akses pasar dan logistik.

Tantangan terbesar dalam produksi adalah menjaga kuantitas, kualitas dan kontinuitas, terutama ketika permintaan meningkat. Di sisi keuangan, masih terdapat UMKM yang belum tertib melakukan pencatatan dan belum memisahkan keuangan pribadi dengan usaha.

Karena itu, digitalisasi didorong tidak hanya untuk pemasaran, tetapi juga transaksi, pencatatan keuangan dan pengelolaan usaha.“Peran BI lebih sebagai katalis dan penghubung ekosistem. Solusi diberikan berdasarkan kebutuhan UMKM pada masing-masing tahap pengembangannya,” ujar Wahyu.

Pasar global bukan hanya soal menemukan pembeli. Ketika produksi belum mampu memenuhi permintaan secara konsisten, maka peluang pasar justru dapat menjadi tantangan baru. Karena itu, memperbesar produksi harus berjalan beriringan dengan menjaga kualitas.

Pemerintah Dorong Hilirisasi

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kota Bengkulu, Eddyson, mengatakan sinergi pemerintah daerah dan Bank Indonesia diarahkan untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, digitalisasi, akses pembiayaan, promosi dan perluasan pasar.

Menurutnya, UMKM tidak boleh berjalan sendiri, tetapi harus terhubung dengan pemerintah, perbankan, lembaga pembiayaan dan pasar. Untuk mendorong hilirisasi, pemerintah daerah juga melakukan pemetaan produk unggulan, peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, penguatan legalitas, standardisasi, kemasan serta branding.

Pelaku UMKM didorong mengikuti promosi dan business matching agar terhubung dengan pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

“Yang terpenting, kita memastikan produksi, kualitas dan kontinuitas produk mampu memenuhi permintaan secara berkelanjutan. Jadi, produk lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing di pasar global,” kata Eddyson.

Total Ada 72 UMKM Dibina

Pengembangan ekosistem UMKM tersebut bukan hanya menyentuh satu sektor. Berdasarkan data UMKM binaan Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu, hingga 2026 terdapat 72 UMKM yang bergerak di berbagai kelompok usaha, mulai dari makanan dan minuman olahan, wastra batik dan tenun, kerajinan atau handicraft seperti tas kulit kayu, manik-manik, batu dan kayu, hingga kelompok tani dan ternak.

Di dalamnya terdapat komoditas dan usaha seperti kopi, ayam petelur, aren, pertanian padi sawah, cabai, bawang merah hingga penggilingan padi. Pada 2026, proses onboarding UMKM dilakukan terhadap 108 pendaftar. Setelah melalui seleksi dan kurasi, 20 UMKM dinyatakan lolos dan masuk dalam proses pendampingan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perjalanan UMKM untuk naik kelas membutuhkan proses panjang. Tidak semua pelaku usaha langsung siap masuk pasar besar. Ada tahapan yang harus dilewati. Dari Kandang, Menjadi Rantai Ekonomi

Posisi UMKM, menurut Wahyu, sangat strategis bagi ketahanan ekonomi daerah karena aktivitasnya berkaitan langsung dengan penyerapan tenaga kerja, pendapatan masyarakat, penggunaan bahan baku lokal, perdagangan, jasa, logistik hingga pembiayaan.

Di Bengkulu, sektor UMKM banyak berkembang dari pertanian dan produk turunannya, makanan dan minuman, kopi, wastra hingga ekonomi kreatif. Dampaknya pun tidak berhenti pada satu pelaku usaha.

Ketika sebuah UMKM tumbuh, petani atau pemasok bahan baku ikut bergerak. Tenaga kerja terserap. Pengolahan dan pengemasan berkembang. Transportasi dan logistik ikut mendapatkan aktivitas. Perbankan dan sektor perdagangan pun ikut bergerak.

Efek berantainya semakin terlihat ketika produk mampu memasuki pasar yang lebih luas. Pada Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, UMKM Bengkulu mencatat transaksi sekitar Rp 1,24 miliar, terdiri dari transaksi offline sekitar Rp 49,20 juta dan online sekitar Rp 1,195 miliar.

Partisipasi tersebut juga menghasilkan peluang business matching ekspor 500 kilogram kopi Robusta Bengkulu, termasuk melalui Letter of Intent (LoI). Namun, angka transaksi bukanlah akhir dari perjalanan.

Bagi BI, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah UMKM menjadi lebih produktif, memiliki kelembagaan yang kuat, mampu menjaga kualitas dan kontinuitas, memanfaatkan digitalisasi, semakin bankable, memiliki pasar berkelanjutan dan pada akhirnya semakin mandiri.

Perjalanan Octavico memperlihatkan bahwa transformasi itu tidak terjadi dalam semalam. Dari 100 ekor ayam afkir dan 50–60 butir telur sehari, ia belajar membaca kandang. Dari 1.000 ekor ayam dan sekitar 25 karpet telur per hari, ia belajar mengelola produksi.

Dari telur yang dipasarkan di Curup hingga Jambi, ia belajar membangun pasar. Dan dari program pendampingan, ia belajar bahwa bisnis tidak cukup hanya menghasilkan produk, tetapi harus memiliki sistem, data, kualitas, identitas dan keberanian menembus pasar yang lebih luas.

Kini, mimpi menuju pasar global masih terus berjalan. Telur mungkin belum dikirim ke Jepang, Singapura atau Malaysia karena keterbatasan produksi. Tetapi peluang lain telah terbuka melalui pupuk organik dari kotoran ternaknya.

Sebuah pelajaran sederhana muncul dari perjalanan itu: go digital dan go global bukanlah lompatan sekali jadi, melainkan rangkaian proses panjang untuk membuat usaha lokal semakin siap menghadapi pasar yang lebih besar. Dan semuanya bermula dari kandang kecil di Kesambe Lama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *