Home › Ekonomi › Rupiah Kian Terpuruk! Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Turun Gunung Lakukan Intervensi

Rupiah Kian Terpuruk! Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Turun Gunung Lakukan Intervensi

BENGKULU, Realitapost.com – Nilai tukar rupiah kian tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Bank Indonesia (BI) menegaskan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap sesuai fundamentalnya.

Berdasarkan data analis Doo Financial Futures, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level Rp 18.184 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini, Rabu (28/10/2026), dari level pembukaan Rp18.025 per dolar AS. Rupiah hari ini terkoreksi 28 poin atau 0,15 persen.

Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15 persen. Pergerakan ini dinilai masih sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan.Menanggapi tren depresiasi tersebut, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan bahwa bank sentral terus berada di pasar baik domestik maupun luar negeri.

“BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward [NDF], Domestic Non-Deliverable Forward [DNDF], dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara [SBN] di pasar sekunder,” terang Erwin melalui keterangan tertulis dikutip dari bisnis.com, Rabu (28/10/2026).

Erwin menyebut, pihaknya juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar dan pihak terkait lainnya.

Ia menjelaskan, pergerakan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Level kenaikan harga minyak ini sudah jauh melampaui asumsi makro APBN yaitu US$70 per barel.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat sehingga memicu sentimen risk-off yang memburuk. Hal itu lalu mendorong penguatan dolar AS serta memicu arus keluar dana atau capital outflow dari pasar negara emerging markets.

“Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi. Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan,” tutur Erwin.

Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, BI memastikan ketahanan eksternal tetap terjaga. Cadangan devisa tercatat tetap kuat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.Dengan demikian, posisi cadangan devisa ini masih di atas standar kecukupan internasional yakni tiga bulan impor.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *