REALITAPOST.COM, JAKARTA – Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 September 2026 menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan moneter global.
OJK mencatat pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan lebih rendah dari 2025, namun lebih baik dari proyeksi sebelumnya ditopang investasi dan perdagangan AI. Tantangannya adalah inflasi global akibat eskalasi konflik yang dongkrak harga minyak dan fenomena very strong El Nino yang berpotensi naikkan harga pangan.
Inflasi memicu kebijakan suku bunga global higher for longer. Suku bunga naik di AS, Eropa, Jepang, dan pasar masih ekspektasi kenaikan di akhir 2026 berlanjut ke 2027. Imbal hasil obligasi pemerintah menyentuh tertinggi dalam dekade, di AS dan Eropa kembali ke level sebelum 2008, Jepang sebelum 1997, dipicu kebutuhan pembiayaan pemerintah dan penerbitan obligasi jangka panjang hyperscaler untuk investasi AI.
Di domestik, ekonomi relatif stabil, inflasi terjaga sesuai target pemerintah, permintaan dan konsumsi kuat. OECD bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen.
IHSG pada akhir September 2026 ditutup di level 6.071,14, terkoreksi 6,96 persen mtm dan 29,79 persen ytd. Investor asing net sell Rp 10,24 triliun (Agustus: net buy Rp 1,19 triliun). Likuiditas tetap manageable dengan bid-ask spread 1,20 persen (Agustus: 1,17persen) dan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) Rp 14,94 triliun (Agustus: Rp 15,86 triliun).
Di pasar obligasi, ICBI di level 439,05, koreksi tipis 0,23 persen mtm dan 0,41 persen ytd. Yield SBN rata-rata naik 14,12 bps mtm. Asing di SBN net sell terbatas Rp 0,34 triliun (Agustus: net buy Rp15,35 triliun), sementara di EBUS korporasi net buy Rp0,91 triliun (Agustus: net sell Rp0,02 triliun).AUM industri pengelolaan investasi tercatat Rp 1.004,68 triliun, terkoreksi 1,55 persen mtm dan 3,65 persen ytd. NAB Reksa Dana Rp 637,07 triliun, moderasi 2,42 persen mtm dan 5,66 persen ytd, dengan net redemption Rp 10,43 triliun.
Sejak diluncurkan 10 Agustus 2026, terdapat 7 produk ETF Emas dari 7 Manajer Investasi dengan dana kelolaan Rp 105,63 miliar per 30 September 2026.Jumlah investor pasar modal tumbuh signifikan, tambah 1,03 juta di September, total 32,17 juta investor, tumbuh 57,96 persen ytd.Penghimpunan dana via Penawaran Umum ytd mencapai Rp 186,03 triliun dari 7 IPO, 18 PUT, 11 EBUS, dan 123 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS. Pipeline ada 29 rencana senilai Rp 26,47 triliun. Target 2026 Rp 250 triliun.Melalui Securities Crowdfunding (SCF), September 2026 ada 15 efek baru dan 9 penerbit baru dengan dana Rp 22,92 miliar, total agregat Rp2,06 triliun.
Di pasar derivatif, sejak 10 Januari 2025 hingga 30 September 2026 ada 113 pihak dapat persetujuan prinsip, volume September 42.718 lot, total ytd 395.571 lot. Bursa Karbon sejak 26 September 2023 ada 160 pengguna jasa, volume 1,98 juta tCO2e senilai Rp 93,97 miliar.Untuk penegakan hukum PMDK, sepanjang 2026 ytd OJK telah kenakan denda Rp 112,79 miliar ke 136 pihak, 2 pencabutan izin, 1 pembatalan STTD, 6 pembekuan izin, 18 peringatan tertulis, dan 5 perintah tertulis. Denda keterlambatan Rp 277 miliar ke 699 pihak dan 222 peringatan tertulis. Sepanjang September saja, denda Rp 8,5 miliar plus 5 peringatan tertulis.
