REALITAPOST.COM, BEKASI – Suasana tegang dan canggung selintas tampak diantara raut muka para peserta Journalism Feloowship on CSR Batch III yang diikuti peserta wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, melalui pertemuan zoom bersama Ketua Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Nurchollis Basyari.
Pria berambut putih justru terlihat lebih tenang dan sesekali melepaskan senyum kala membuka sesi acara zoom meeting tersebut. Acara dibuka dan diawali dengan doa bersama sebagai langkah awal mengawali pertemuan tersebut.
Acara edukatif ini dibuka dengan sesi berbobot dari Ketua Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Nurchollis Basyari. Di hadapan peserta JFC ditengah kemajuan gawai dan banjir informasi digital—Nurchollis mengupas tuntas urgensi peran pers di tengah era disrupsi. Pilar Keempat Demokrasi Bukan Penggiat Medsos tapi pers atau media.
Dalam paparannya, Nurchollis menekankan bahwa pers memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan informasi yang akurat. Di tengah kondisi industri media yang penuh tantangan saat ini, pemerintah memegang tanggung jawab penting untuk menjaga keberlangsungan usaha media. ‘
Hal ini menjadi mutlak jika pemerintah memang menempatkan media sebagai pilar keempat demokrasi yang berfungsi memberikan pencerahan publik serta mengawal jalannya check and balances.
“Sudut pandang seorang jurnalis itu sangat luas terhadap sebuah isu dan peristiwa yang terjadi. Namun, pers atau media tentu tidak sama cara kerjanya dengan penggiat media sosial yang bisa semaunya menayangkan informasi,” tegas Nurchollis dihadapan zoom peserta Journalis Fellowship on CSR, Jumat (22/5/2026).
Ia menggaris bawahi bahwa jurnalis dibekali kode etik untuk memilah informasi sebelum disebarluaskan. Nurchollis memberikan contoh konkret mengenai peliputan di ruang pengadilan. Meski proses persidangan dinyatakan terbuka untuk umum, tidak semua fakta atau ucapan yang muncul di dalam sidang harus mentah-mentah dipublikasikan.
“Di sinilah tugas wartawan untuk menyaringnya. Mana informasi yang bernilai publik dan relevan, mana yang tidak. Kalau semua hal kita publikasikan tanpa penyaringan, maka apa bedanya kita dengan penggiat media sosial?” tambahnya, sembari menekankan pentingnya kurasi berita demi ruang publik yang sehat.
Usai kenyang menyerap ilmu komunikasi dan jurnalistik, pesreta JFC diajak mengamati kegiatan kunjungan industri rombongan SMK HS Agung Bekasi ke kantor Perusahaan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), salah satu raksasa penyedia infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.
Riuh rendah suara khas remaja mendadak senyap saat melangkah memasuki ruang diskusi. Puluhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) HS Agung Bekasi tidak sedang bersiap menghadapi ujian sekolah, melainkan tengah bersiap menyelami realitas dunia kerja yang sesungguhnya.
Kegiatan Kunjungan Industri kali ini menjadi momen krusial untuk membuka cakrawala mereka tentang dinamika media massa dan industri infrastruktur digital nasional.
Di lokasi TBIG, para siswa tidak lagi hanya berbicara soal teori penyaringan informasi, melainkan melihat langsung bagaimana ekosistem teknologi bekerja menyokong konektivitas digital yang saban hari mereka gunakan.
Mereka diajak melihat ruang kerja profesional, memahami pengelolaan menara telekomunikasi, hingga berdiskusi dengan para praktisi industri yang mengoperasikan jaringan digital nasional.
Kunjungan industri ini berhasil menjembatani dua dunia yang saling bertautan dimana dunia media yang memproduksi konten sehat, dan dunia infrastruktur teknologi seperti TBIG yang mendistribusikannya ke seluruh pelosok negeri.
Puluhan siswa pulang membawa oleh-oleh berharga, bukan sekadar sertifikat kunjungan, melainkan kesadaran baru menjadi generasi muda yang melek media dan siap bersaing di era digital.
Reporter : dian marfani
