REALITAPOST.COM, BENGKULU – Pelabuhan Pulau Baai memperkokoh posisinya sebagai pintu gerbang utama aktivitas perdagangan internasional Provinsi Bengkulu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, mayoritas eksportir di wilayah ini tetap memilih pelabuhan domestik tersebut untuk mengapalkan komoditas unggulan ke pasar global.
Dominasi ini mencerminkan peningkatan kepercayaan pelaku usaha terhadap kinerja serta pembenahan fasilitas, sarana, dan prasarana pelabuhan secara berkelanjutan.Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bengkulu, Reni Puspasari, mengungkapkan bahwa total nilai ekspor Bengkulu sepanjang semester I (Januari–Juni) 2026 mencapai USD 28,29 juta. Dari total tersebut, hampir seluruh aktivitas pemuatan barang terpusat di satu titik.
“Sebesar 97,90 persen atau senilai 27,70 juta dolar dikapalkan dari Pulau Baai, sisanya baru pelabuhan-pelabuhan lain,” ujar Reni kepada awak media.
Berdasarkan data BPS, porsi pengapalan dari pelabuhan alternatif tercatat jauh di bawah Pulau Baai antara lain :
- Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Berkontribusi sebesar 1,05 persen atau senilai USD 0,30 juta.
- Pelabuhan Boom Baru (Sumatera Selatan), Menyerap porsi 0,64 persen dengan nilai USD 0,18 juta.
- Pelabuhan Lainnya (Soekarno-Hatta & Ngurah Rai), Mencakup 0,28 persen atau senilai USD 0,08 juta.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, struktur ekspor Bengkulu masih didominasi oleh hasil industri pengolahan dan sektor pertambangan, khususnya batu bara. Selain itu, komoditas dari sektor perikanan, perhutanan, dan pertanian juga turut menyumbang volume ekspor dengan negara tujuan utama meliputi India, Pakistan, dan Thailand.
Tingginya minat eksportir untuk bertahan di Dermaga Pulau Baai dipengaruhi oleh langkah pembenahan infrastruktur yang terus dilakukan oleh PT Pelindo II selaku pengelola. Upaya modernisasi ini berhasil menekan biaya operasional ekspor menjadi lebih kompetitif.
Selain faktor biaya, letak geografis Pelabuhan Pulau Baai memberikan keunggulan komparatif. Jarak tempuh pelayaran menuju negara tujuan ekspor di kawasan Asia maupun Eropa dinilai lebih pangkas. Kondisi ini secara langsung memotong volume penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang merupakan komponen biaya energi utama bagi kapal-kapal kargo.
Meskipun Pelabuhan Pulau Baai mendominasi jalur logistik secara mutlak, nilai perdagangan luar negeri Provinsi Bengkulu secara akumulatif justru mengalami penurunan yang signifikan.Reni menambahkan, total nilai ekspor pada periode Januari–Juni 2026 terkoreksi hingga 47,46 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor Bengkulu pada semester I tahun 2025 mampu mencapai USD 53,85 juta. Meski secara nilai menurun drastis pada tahun ini, komposisi produk yang dikirim ke luar negeri tidak mengalami perubahan pola dan tetap bertumpu pada komoditas pertambangan, pertanian, perikanan, kehutanan, serta industri pengolahan.
