berita realitapost

Perkuat Pemberitaan Positif di Era Post-Truth, LDII Bengkulu Bekali 105 Peserta Pelatihan Jurnalistik

Realitapost.com, Bengkulu — Derasnya arus informasi di era post-truth menjadi tantangan tersendiri bagi insan pers. Apalagi maraknya hoaks, fitnah, serta informasi yang dibangun melalui framing negatif, jurnalis dituntut mampu menghadirkan pemberitaan yang faktual, berimbang, dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bengkulu menggelar pelatihan jurnalistik terhadap 105 peserta yang berasal dari pengurus LDII se Provinsi Bengkulu selama 3 hari yang dipusatkan di sekretariat DPW LDII Bengkulu, Sabtu pagi (5/9/2026).

Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu, Dr. H. Meri Sasdi, M.Pd, mengatakan pelaksanaan PJMD tersebut menjadi langkah untuk meningkatkan kapasitas kader LDII dalam bidang jurnalistik sekaligus memperkuat sinergi dengan insan pers.

Menurutnya, pelatihan tersebut menghadirkan narasumber langsung dari DPP LDII.

Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Meri Sasdi mengatakan, selain memperkuat kemampuan jurnalistik, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun sinergi pemberitaan antara LDII, media, dan pemerintah daerah.

“Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapat support dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Tadi sekaligus kita melakukan MoU bagaimana memperkuat sinergitas dalam hal pemberitaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, sinergi tersebut tidak hanya diarahkan untuk kepentingan dakwah LDII, tetapi juga untuk ikut menyebarluaskan informasi mengenai berbagai program pemerintah dan kegiatan masyarakat di Provinsi Bengkulu.

Melalui peningkatan kapasitas jurnalistik, ia berharap para jurnalis dan kader LDII dapat menghasilkan pemberitaan yang sejuk, memberikan motivasi, serta mendorong masyarakat untuk ikut mendukung program pembangunan.

Sementara itu, Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), H. Rulli Kuswahyudi, S.Sos, mengatakan media memiliki peran strategis dalam menangkal informasi yang menyesatkan sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima publik.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar (PJMD) yang diikuti peserta dari LDII di Provinsi Bengkulu.

Rulli mengatakan, karakter informasi di era post-truth membuat kabar negatif cenderung lebih cepat menarik perhatian masyarakat dibandingkan informasi positif.

Kondisi tersebut membuat berita mengenai sesuatu yang buruk, kontroversial, atau mengandung konflik lebih mudah menjadi viral.

“Di era post-truth ini berlaku lagi bad news is good news. Orang berbuat baik itu biasa-biasa saja, tetapi ketika ada orang berbuat jelek, itu justru menjadi berita yang sangat viral,” kata Rulli.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak terlepas dari kecenderungan masyarakat yang lebih tertarik terhadap informasi yang mengandung konflik, sensasi, maupun drama.

Situasi ini sekaligus menjadi tantangan bagi insan pers agar tidak terjebak pada pemberitaan yang hanya mengejar perhatian publik.

Sebab, pemberitaan yang tidak berimbang, terlebih informasi palsu, dapat membentuk opini publik sekaligus melahirkan stigma terhadap seseorang maupun organisasi.

“Berita hoaks, berita fitnah masih banyak. Kita tidak bisa menutup mata terhadap itu. Karena itu, teman-teman media memiliki peran penting untuk menghadirkan informasi yang benar dan berimbang,” ujarnya.

Rulli juga menyinggung LDII yang menurutnya selama bertahun-tahun kerap menjadi sasaran framing dan stigma negatif. Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana persepsi publik dapat terbentuk dari informasi yang terus berulang tanpa melihat perkembangan dan fakta terkini.

“LDII juga menjadi korban dari era post-truth, menjadi korban framing. Ada stigma yang bertahun-tahun melekat. Misalnya LDII identik dengan hal-hal tertentu. Padahal teman-teman media bisa melihat sendiri kondisi LDII hari ini,” katanya.

Karena itu, ia mengajak jurnalis untuk tidak berhenti pada pemberitaan negatif, tetapi turut memperbanyak konten positif yang tetap berpegang pada fakta.

Menurut Rulli, pemberitaan negatif tidak harus dilawan dengan mengabaikan fakta, melainkan dengan menghadirkan informasi yang lebih lengkap, berimbang, dan menunjukkan berbagai sisi dari sebuah persoalan.

“Berita jelek itu harus kita timbun, harus kita kubur dengan berita-berita dan konten-konten yang positif. Caranya ya dengan terus memberitakan hal-hal positif,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap individu maupun organisasi memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Karena itu, pemberitaan sebaiknya tidak hanya menonjolkan sisi negatif, tetapi juga memberikan ruang bagi fakta dan kontribusi positif yang dilakukan.

“Bagaimanapun, orang baik tetap saja punya head bar atau kekurangan. Tetapi jangan sampai kekurangan itu kemudian menutup seluruh kebaikannya,” pungkasnya.(Damar)

Exit mobile version