berita realitapost

Sinergi BI di KKI 2026: Dorong Digitalisasi, Jumlah Merchant QRIS Bengkulu Tembus Angka Fantastis

EKONOMI, REALITAPOST.COM — Bank Indonesia (BI) terus memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu bangkit, tangguh, berdaya saing, dan lebih cepat naik kelas. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

KKI 2026 mengusung semangat “BeudayaMeusareSare” dari Aceh yang bermakna berdaya bersama-sama. Gelaran tahunan BI ini sekaligus menjadi momentum mendorong pemulihan dan penguatan UMKM, termasuk pelaku usaha di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam.

Pembayaran Digital Makin Masif, BI Catat 257.757 Merchant QRIS di Bengkulu QRISperience Week Bengkulu 2026, Tiket Wisata Sejarah Hanya Rp81 Bayar Pakai QRISSMA IT Iqra Bengkulu Unggul di QRIS Banking Race KKI 2026 dibuka Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah menteri, pimpinan lembaga, perbankan, asosiasi, duta besar negara sahabat, serta pelaku usaha.

Tahun ini, KKI diikuti lebih dari 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM melalui kanal daring. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang melibatkan 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.

Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, KKI 2026 menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperluas akses pembiayaan, pasar, digitalisasi, serta penguatan rantai nilai UMKM.

“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu bangkit, tangguh, dan berdaya saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry.

Penguatan UMKM dinilai strategis karena sektor tersebut menjadi salah satu fondasi utama perekonomian nasional. Dengan sekitar 64 juta pelaku usaha, UMKM disebut menyerap 97 persen tenaga kerja dan memberikan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Karena itu, BI mengarahkan pengembangan UMKM melalui tiga strategi utama, yakni penguatan ekonomi inklusif yang terintegrasi dan berdaya saing, perluasan pembiayaan inklusif dan keuangan berkelanjutan, serta penguatan literasi dan sinergi ekonomi-keuangan inklusif dan berkelanjutan.

Dalam KKI 2026, BI juga menggaungkan Gerakan Korporasi Gandeng UMKM sebagai strategi mempercepat transformasi usaha kecil menjadi pelaku usaha yang lebih besar dan terintegrasi dalam rantai nilai.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengatakan kemitraan dengan korporasi dapat menjadi pengungkit bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitas, memperluas jaringan usaha, serta mempercepat adopsi teknologi.

Melalui KKI 2026, BI menargetkan fasilitasi business matching omzet dan ekspor senilai Rp 446,9 miliar. Sementara business matching pembiayaan, termasuk pembiayaan hijau, ditargetkan mencapai Rp 212,8 miliar.

Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan konektivitas yang lebih kuat antara UMKM, korporasi, perbankan, dan pasar global.

Komitmen penguatan UMKM tersebut juga tercermin dari kontribusi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu. Pada KKI 2026, KPw BI Bengkulu memfasilitasi 32 UMKM unggulan untuk tampil melalui kanal daring dan luring.

Dari jumlah tersebut, enam UMKM hadir secara langsung di JICC, terdiri atas dua UMKM sektor wastra dan empat UMKM makanan dan minuman. Sementara 26 UMKM lainnya berpartisipasi melalui platform digital KKI 2026.

Partisipasi tersebut membuahkan hasil dengan total transaksi penjualan UMKM binaan KPw BI Bengkulu mencapai Rp 955.491.033.

Di sektor wastra, Batik Kagano menampilkan produk kain khas Bengkulu, sedangkan Swarnabumei menghadirkan produk ready to wear yang mengangkat motif besurek dan identitas bunga raflesia.

Adapun sektor makanan dan minuman diwakili CV Jaya Rasa Bengkulu, Giwigewi, Kerupuk Ke

Exit mobile version