berita realitapost

Catat ! Ternyata Jurnalis dan CSR Perusahaan Memiliki Tujuan Yang Sama

banner 120x600

REALITAPOST.COM, JAKARTA – Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan ternyata berbagi akar filosofis yang sama dengan dunia jurnalisme. Keduanya memiliki peran kerja dan tujuan yang serupa, yaitu mengabdi pada kepentingan masyarakat (public interest).

Secara mendasar, program CSR bekerja dengan menempatkan kemaslahatan masyarakat sebagai fokus utama. Setali tiga uang, jurnalisme mengemban misi membawa fakta penting yang dibutuhkan publik, sekaligus menjadi jembatan strategis untuk menyuarakan aspirasi masyarakat ke ruang publik.

Pandangan tersebut dipaparkan Fransiskus Sudiarsis, dalam sesi diskusi daring mengenai sinergi antara dunia jurnalisme dan pelaksanaan CSR perusahaan yang disampaikan oleh pada Senin (8/6/2026).

Fransiskus, yang juga menjabat sebagai Anggota Komite Tanggungjawab Perusahaan Platform Digital Untuk Jurnalisme Berkualitas, menegaskan bahwa jurnalisme dan CSR di atas fondasi yang sama.

“Jika perusahaan menjalankan berbagai program CSR untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, maka media bertugas menyampaikan, mengawasi, sekaligus mengedukasi publik mengenai dampak dari program-program tersebut. Nah, inilah titik temu yang menjadi pondasi hubungan antara media dan perusahaan terkait dengan CSR,” ujar Frans.

Salah satu tantangan terbesar hari ini adalah masih kuatnya stigma bahwa CSR hanyalah alat pencitraan atau kepentingan sepihak korporasi. Akibat dari anggapan keliru ini, berbagai program sosial yang sebenarnya berdampak luas sering kali luput dari perhatian publik dan berakhir tanpa gaung yang memadai.

Di sinilah jurnalisme memegang misi krusial untuk melakukan mainstreaming—yaitu membawa isu CSR ke ruang publik yang lebih luas. Upaya ini penting agar masyarakat memahami bahwa CSR bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan perwujudan tanggung jawab nyata korporasi terhadap lingkungan sosial sekitarnya.

Untuk mencapai hal itu, pemenuhan standar jurnalisme yang berkualitas menjadi harga mati. Pemberitaan yang akurat, mendalam (in-depth), dan berimbang menjadi kunci utama agar informasi mengenai program CSR dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat luas.

“Tidak ada cara laing dalam melakukan mainstreming CSR selain dengan menjadi jurnalisme berkualitas,” terang pria yang akrab disapa Mas Fran.

Fransiskus memaparkan tiga misi utama yang harus diemban oleh media dalam peliputan CSR antara lain mengungkap duduk persoalan, mendorong Apresiasi, Perbaikan dan perluasan dan terakhir menangkap Perubahan nyata.

Terkait yang pertama soal, Mengungkap Duduk Persoalan dimana Media berperan sebagai jembatan yang menghubungkan perusahaan dengan masyarakat melalui penyebaran informasi yang jelas dan mudah dipahami. Lewat pemberitaan yang komprehensif, masyarakat dapat mengetahui tujuan, proses, hingga manfaat dari program CSR yang dijalankan. Publik tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga memahami konteks dan permasalahan sosial yang sedang diintervensi oleh korporasi.

Lalu kedua, Mendorong Apresiasi, Perbaikan, dan Perluasan, Inisiatif Jurnalisme tidak hanya bertugas menyoroti keberhasilan suatu program, tetapi juga memberikan ruang evaluasi yang kritis agar program tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik. Selain itu, publikasi yang luas diharapkan mampu memicu efek domino, menginspirasi perusahaan lain untuk menjalankan program CSR.

“Seperti perusahaan TBIG atau perusahaan meminta media untuk mengevaluasi program CSR yang dijalankan secara berkelanjutan sehingga setiap waktu mengalami perbaikan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat atau apresiasi yang merupakan infrastruktur mental,” terangnya.

Dan ketiga, Menangkap Perubahan Nyata, dimana jurnalis harus mampu mengukur dan mengungkap sejauh mana dampak nyata yang dirasakan masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi, pendidikan, maupun lingkungan. Media bertugas melacak keberlanjutan (sustainability) dari program tersebut setelah seremonial penyerahan bantuan selesai dilakukan.

“Dalam kontek ini, jurnalis harus melihat dampak perubahan baik ekonomi, sosial dan lingkungan terhadap program CSR yang telah dijalankan dengan tiga metode yakni Output, Outcome dan Impact. Kebanyakan jurnalis saat ini masih berada pada titik liputan Output  semata dari program CSR yang diberitakan. Padahal sebagai jurnalis kita harus peka dan mampu melihat aspek Outcome atau dampak perubahan yang ditimbulkan dari program yang dijalankan perusahaan. Dan ketiga impact atau perubahan yang lebih luas nah pada titik ini jurnalis bisa dikatakan berkualitas dengan konten menggali dampak yang lebih luas di masyarakat,” bebernya.

Dengan demikian, pada akhirnya, peliputan CSR tidak boleh semata-mata berbicara tentang kepentingan bisnis korporasi. Pemberitaan CSR harus selalu ditempatkan dalam koridor kebutuhan dan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Melalui jurnalisme yang berkualitas, berbagai inisiatif sosial perusahaan dapat diketahui publik, dievaluasi bersama, serta didorong agar menghasilkan perubahan yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *