berita realitapost

Akselerasi Newsroom: Bagaimana AI Mengubah Cara Kerja Jurnalis Modern

banner 120x600

BENGKULU, REALITAPOST.COM — Perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) tengah mentransformasi berbagai lini industri, tidak terkecuali dunia pers.

Menanggapi fenomena global ini, Sekretaris Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, M.I.Kom, memberikan pandangan objektif terkait dampak dan tantangan keberlangsungan profesi jurnalis di era kecerdasan artifisial.

Dalam keterangannya, Iyud Dwi Mursito menekankan bahwa kehadiran AI dalam dunia jurnalistik tidak seharusnya disikapi dengan kepanikan atau resistensi yang provokatif, melainkan dengan adaptasi yang cerdas dan terarah.

Menurutnya, AI ibarat pisau bermata dua bagi ekosistem media masa kini.Efisiensi Redaksional Melalui AIDari sisi positif, Iyud menilai AI bertindak sebagai alat bantu (enabler) yang mampu mendongkrak produktivitas ruang redaksi.

Teknologi berbasis AI dapat mempermudah pekerjaan repetitif jurnalis, seperti melakukan transkripsi wawancara audio, menerjemahkan dokumen asing, hingga membantu memilah data besar (big data) untuk keperluan jurnalisme investigasi.

“Teknologi ini mempercepat proses kerja. Melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada esensi jurnalisme itu sendiri, yaitu turun ke lapangan, melakukan konfirmasi, dan menyusun analisis mendalam yang humanis,” ujar Iyud.

Data dari World Economic Forum dan laporan tren media global menunjukkan bahwa adopsi AI di sektor publik dan produktivitas nasional, termasuk di Indonesia, meningkat signifikan demi efisiensi operasional.

Di balik kemudahan tersebut, Iyud yang aktif dalam gerakan literasi digital mengingatkan adanya tantangan besar terkait integritas informasi. Kemudahan produksi konten oleh AI generatif memicu kekhawatiran atas melonjaknya penyebaran disinformasi, artikel fabrikasi (hallucination), serta konten rekayasa digital seperti deepfake yang kian sulit dibedakan dari fakta.

Bagi keberlangsungan profesi jurnalis, tantangan terbesar terletak pada distorsi informasi dan penurunan kepercayaan publik jika media arus utama gagal memverifikasi produk yang dihasilkan oleh mesin.

Selain itu, algoritma pencarian bertenaga AI yang menyajikan ringkasan informasi langsung (seperti zero-click searches) berisiko menggerus trafik kunjungan ke situs berita resmi, yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi perusahaan pers.

Jalan Keluar Menjaga Marwah JurnalismeSebagai langkah mitigasi, Mafindo Bengkulu secara konsisten mendorong penguatan literasi digital dan pemanfaatan AI secara beretika di tengah masyarakat dan kalangan akademisi.

Iyud merekomendasikan tiga langkah konkret yang berbasis pada edukasi antara lain, Prinsip Human-in-the-Loop dimana AI hanya boleh diposisikan sebagai asisten pembuat draf atau pengolah data awal. Keputusan editorial, verifikasi fakta, dan kurasi akhir wajib tetap berada di tangan jurnalis manusia.

Lalu, Transparansi Publi yang mana Media massa harus secara jujur memberikan pelabelan atau penafian (disclaimer) apabila terdapat bagian dari proses pemberitaan yang menggunakan bantuan teknologi AI.

Terakhir, peningkatan kualitas jurnalisme yang tidak dapat direplikasi oleh AI adalah empati, insting investigasi, serta kemampuan wawancara tatap muka yang mendalam. Ruang redaksi perlu memperbanyak karya jurnalistik berkualitas tinggi ini untuk mempertahankan kepercayaan publik.

“AI tidak akan pernah bisa menggantikan nurani, etika, dan integritas seorang jurnalis. Kunci keberlangsungan pers di masa depan bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang diadopsi, melainkan seberapa ketat jurnalis menjaga kebenaran dan kaidah kode etik jurnalistik di tengah gempuran otomatisasi,” pungkas Iyud.

Sementara itu, Merdi Sofansyah, dalam paparannya tentang Media and AI Practitioner pada kelas daring, Journalism Fellowship (JFW) On CSR Batch III 2026, mengatakan bahwa di era transformasi media saat ini, jurnalis dituntut pula untuk bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi, kini menyeruak dan menyasar ruang-ruang digital dan newsroom penggunaan yakni Artificial Intelligence (AI).

”AI tidak menggantikan wartawan yang serius belajar. Tapi wartawan yang menolak belajar AI bisa tertinggal oleh wartawan lebih adaptif, lebih cepat dan lebih sistematis,” kata Merdi Sofansyah, Rabu (17/6).

Merdi menekankan setidaknya terhdapat dua poin penting dari menggunakan AI, yakni akselerasi dan efisien dan penggunaan AI sudah masuk ke newsroom.

Ia lalu memberikan contoh dan membandingkan sebelum ada AI, dalam memproduksi satu berita membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM), baik di lapangan maupun ruang kontrol.

”Tapi ketika AI datang menyeruak ke ruang-ruang redaksi, mau dan tidak semua beradaptasi, yang dulunya dilakukan banyak SDM, sekarang bisa dilakukan oleh seorang produser saja,” bebernya.

Tidak hanya sampai di sini kata dia, pakar AI menyebut AI juga terus bertransformasi dalam tiga fase, AI nero, AI General intelijen dan AI Super Intelijen.

Lebih lanjut, ia menjelaskan keberadaan AI juga menggeser ruang redaksi,. Kalau dulu era deadline, sekarang era real time intelligence. Oleh karena itu menurutnya, AI membantu mempercepat kerja jurnalistik, tapi verifikasi dan integritas jelas harus tetap kita yang pegang.

Di hadapan puluhan Jurnalis, Merdi juga memaparkan tool-tool dan prompt dalam penggunaan AI, dengan isi perintah yang detil.

“Memang Ai. Enggak usah sungkan. Jadi, enggak ada rasa bersalah. Kita minta Ai nya bolak balik. Apa mengubah hasil Output itu. Minta Ea untuk melakukan analisa. Bertindaklah sebagai Fact Checker dan editor. Kebijakan publik. Baca program atau paragraf rilis berikut tentang Mbg, Tandai klaim yang terlalu umum, klaim yang membutuhkan data Klaim yang berpotensi menyesatkan. Dan pertanyaan verifikasi yang harus diajukan sebelum Bani ini diolah menjadi berita link nya kita Copy di bawah,” jelasnya.(DM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *