berita realitapost

Ancaman Kerugian Rp 3,5 Triliun Tangakapan Ikan Bengkulu Pertahun

REALITAPOST.COM, BENGKULU — Debur ombak Samudera Hindia yang memanjang sepanjang 525 kilometer garis pantai Bengkulu selama ini menyimpan harapan besar. Laut bukan sekadar hamparan biru, tetapi ruang hidup ribuan nelayan dan sumber potensi ekonomi bernilai triliunan rupiah. Namun di balik riak ombak itu, tersimpan kegelisahan tentang masa depan.

Pesan itu mengemuka dalam Rapat Senat Paripurna Terbuka Pengukuhan Guru Besar Universitas Bengkulu (Unib) di Gedung Serba Guna (GSG), Selasa (10/2/2026). Selain mengukuhkan Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, forum akademik tersebut juga mengukuhkan lima Guru Besar lainnya, salah satunya Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc sebagai Guru Besar bidang Sosial Ekonomi Pertanian.

Dalam tradisi pengukuhan, setiap profesor menyampaikan orasi ilmiah sebagai cerminan kepakaran dan hasil riset unggulannya. Prof. Irnad mengangkat tema yang menyentuh langsung denyut ekonomi pesisir: “Eksplorasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja dan Loyalitas Profesi Nelayan di Provinsi Bengkulu: Structural Equation Model.”

Di hadapan senat dan tamu undangan, ia memaparkan sebuah paradoks yang ia sebut sebagai “Kepuasan semu di laut Bengkulu.”

Potensi Besar, Ancaman Nyata

Secara potensi, Bengkulu berada dalam posisi strategis. Dengan garis pantai yang panjang dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, potensi lestari perikanan Bengkulu diperkirakan mampu menghasilkan tangkapan hingga 860.800 ton per tahun, dengan nilai ekonomi mencapai Rp3,5 triliun.

“Nilai ini kurang lebih setara tiga kali lipat PAD Kota Bengkulu per tahun. Jika potensi perikanan dikelola maksimal, bahkan secara ilustratif dapat menopang daerah dalam waktu yang panjang,” ujar Prof. Irnad.

Namun angka-angka optimistis itu berhadapan dengan realitas sosial yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan hasil penelitiannya, 54,1 persen nelayan mengaku puas dengan pekerjaannya. Mereka merasa profesi nelayan memberi harga diri, otonomi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga, termasuk pendidikan dan kesehatan. Ada kebanggaan tersendiri menaklukkan laut—sebuah profesi yang dianggap tangguh dan penuh tantangan.

Tetapi di balik kepuasan itu, loyalitas justru rendah. Hanya 16,6 persen nelayan yang menyatakan ingin tetap setia pada profesinya dalam jangka panjang. Bahkan, 75,4 persen responden mengaku tidak akan mewasiatkan profesi nelayan kepada anak-anak mereka.

“Artinya, regenerasi berpotensi terputus. Ini ancaman serius bagi keberlanjutan potensi perikanan yang melimpah,” tegasnya.

Jurang antara Kenyamanan Sosial dan Ketakutan Alam

Mengapa nelayan merasa puas, tetapi enggan bertahan? Prof. Irnad menjelaskan, secara sosial mereka merasa cukup dan bangga. Namun secara ekologis, muncul ketakutan yang semakin nyata. Sebanyak 62,2 persen responden memiliki persepsi bahwa laut kini tak lagi bersahabat akibat perubahan iklim.

Dalam lima tahun terakhir, nelayan merasakan gelombang lebih tinggi, cuaca ekstrem lebih sering, musim ikan dan fishing ground berubah, serta kondisi air laut yang lebih keruh dan kurang asin. Ketidakpastian ini menciptakan rasa tidak aman terhadap masa depan.

Di sisi lain, faktor kebijakan juga dinilai belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil nelayan. Terkait regulasi, penanganan konflik, pelatihan, penyuluhan, sarana, hingga asuransi, hanya 23,5 persen responden yang menilai baik. Sebanyak 20,4 persen menilai buruk, dan 56,1 persen bersikap netral—yang dalam analisisnya mencerminkan kebijakan belum terasa berdampak signifikan.

“Akar persoalannya adalah adanya jurang antara kenyamanan sosial dan ketakutan terhadap alam. Kepuasan hari ini dibayangi ketidakpastian esok hari, sehingga loyalitas masa depan melemah,” jelasnya.

Jika kondisi ini dibiarkan, efek dominonya tidak kecil. Sebanyak 12.050 rumah tangga nelayan terancam kehilangan mata pencaharian utama. Sekitar 300 rumah tangga pengolah ikan berpotensi menganggur, ribuan pedagang ikan bisa kehilangan usaha, serta ratusan tukang perahu, montir, hingga dealer mesin kehilangan pasar.

“Dampak ekstremnya adalah kelumpuhan ekosistem ekonomi pesisir Bengkulu,” ujarnya.

Dari Nelayan Pantai ke Nelayan Samudra

Untuk mencegah potensi kerugian Rp 3,5 triliun itu hilang, Prof. Irnad menawarkan tiga strategi utama. Pertama, edukasi adaptif berbasis iklim. Bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membekali nelayan dengan pemahaman pola perubahan iklim jangka panjang, pelatihan melaut dalam kondisi cuaca buruk, serta transformasi ketakutan menjadi kesiapan operasional.

Kedua, penguatan kelembagaan. Solidaritas sosial yang selama ini kuat perlu ditransformasikan menjadi kelembagaan formal seperti koperasi atau Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang memiliki daya saing ekonomi dan akses pasar yang lebih luas.

Ketiga, transformasi teknologi dan akses modal. Melalui kredit murah dan modernisasi alat tangkap, kapasitas nelayan dapat ditingkatkan sehingga bertransformasi dari “nelayan pantai” menjadi “nelayan samudra” yang lebih tangguh menghadapi dinamika laut lepas.

“Menyelamatkan aset Rp3,5 triliun berarti menghadirkan rasa aman terhadap masa depan, bukan hanya kenyamanan hari ini,” tutupnya.

Exit mobile version