BENGKULU – Corporate Social Responsibility (CSR) pada perusahaan modern tidak lagi dipandang sebagai program amal atau sekadar memenuhi kewajiban perusahaan kepada masyarakat. Justru, CSR menjadi bagian dari strategi bisnis yang mampu menciptakan nilai bersama (shared value) antara perusahaan dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan CSR Advisor PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Fahmi Sultan Alatas, saat memberikan materi dalam kegiatan penguatan kapasitas program CSR. Menurutnya, perusahaan tidak boleh berpikir bahwa keuntungan harus diraih terlebih dahulu baru kemudian membantu masyarakat.
“Logika shared value bukan untung dulu baru bisa membantu masyarakat, tetapi bagaimana masyarakat ikut berkembang sehingga bisnis perusahaan juga berjalan dengan baik,” ujar Fahmi dalam sesi kelas JFC on CSR GWPP Bacth 3.
Ia menjelaskan, keberadaan masyarakat memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan. Masyarakat bukan hanya menjadi lingkungan tempat perusahaan beroperasi, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai, baik sebagai sumber daya, mitra, maupun pasar bagi produk dan layanan perusahaan.
Sebagai contoh, Fahmi menyebut rendahnya literasi digital masyarakat akan berdampak langsung terhadap perkembangan industri digital di Indonesia. Karena itu, program CSR harus selalu berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial.
“CSR harus bergerak dari persoalan yang riil. Kalau masalahnya nyata, maka pendekatannya juga harus nyata dan solusinya bisa dirasakan langsung,” katanya.
Dalam pemaparannya, Fahmi juga memperkenalkan konsep yang disebutnya sebagai “gerakan tanpa bola”. Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan pentingnya membangun strategi sebelum persoalan muncul. Namun ia mengingatkan, banyak program CSR yang justru berjalan tanpa arah karena tidak dibangun di atas logika berpikir yang valid.
“Perusahaan modern menjalankan CSR bukan semata-mata karena ada komplain masyarakat. Mereka memahami bahwa kinerja sosial yang baik akan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan bisnis, kepuasan pelanggan, hingga kepercayaan pemegang saham,” jelasnya.
Ia mencontohkan industri telekomunikasi yang sangat bergantung pada kepercayaan pelanggan. Gangguan layanan yang terjadi bukan hanya berdampak pada operasional perusahaan, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap perusahaan tersebut.
Berangkat dari Persoalan Nyata
Fahmi mengisahkan, sejak sekitar tahun 2015 TBIG mulai merancang Program Pilar Pendidikan yang menjadi salah satu program unggulan CSR perusahaan. Meski konsepnya terus berkembang, dasar pemikirannya tetap sama, yakni menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi perusahaan bersama para mitra kerjanya.
Dalam rantai pasok (supply chain) TBIG, terdapat mitra kerja berskala kecil hingga perusahaan besar. Mengacu pada standar ISO 26000, khususnya klausul mengenai praktik operasional yang adil (fair operating practices), seluruh mitra kerja harus memiliki kemampuan memberikan layanan yang berkualitas.
Namun, menurut Fahmi, kemampuan perusahaan kecil tentu berbeda dengan perusahaan besar. Banyak mitra usaha kecil yang belum memiliki divisi pengembangan sumber daya manusia sehingga kesulitan meningkatkan kompetensi tenaga kerjanya.
“Karena itu kami membangun kurikulum unggulan agar mitra kerja skala kecil dapat memperoleh SDM yang kompeten tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk pelatihan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program CSR tidak diukur dari kemewahan kegiatan atau besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari ketepatan dalam menjawab persoalan yang ada.
“Banyak program CSR yang tampilannya megah dan wah, tetapi ketika ditarik ke belakang paradigma dasarnya justru tidak jelas. Melalui kelas ini kami ingin teman-teman memahami bahwa implementasi CSR memiliki kerangka berpikir yang sudah distandardisasi secara universal melalui ISO 26000,” katanya.
Bukan Karena Kurikulum SMK Buruk
Fahmi juga meluruskan anggapan bahwa Program Kurikulum Unggulan CSR TBIG lahir karena kualitas pendidikan SMK dianggap kurang baik. Menurutnya, hasil kajian tim justru menunjukkan bahwa banyak sekolah kejuruan memiliki sistem pembelajaran yang baik serta didukung guru-guru yang berdedikasi tinggi.
Persoalan sebenarnya, kata dia, adalah laju perkembangan industri yang jauh lebih cepat dibanding kemampuan lembaga pendidikan dalam menyesuaikan kurikulum.
“Kurikulum unggulan CSR hadir bukan karena kurikulum SMK itu buruk. Justru kami melihat sekolah-sekolah memiliki guru yang luar biasa. Persoalannya, industri berkembang sangat cepat sehingga dunia pendidikan membutuhkan dukungan agar lulusan mereka sesuai dengan kebutuhan industri,” jelasnya.
Ia menambahkan, Program Kurikulum Unggulan CSR dirancang untuk menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan sehingga mampu menghasilkan tenaga kerja yang siap memasuki dunia kerja sekaligus memperkuat kualitas mitra kerja TBIG.
Menurut Fahmi, konsistensi menjalankan program CSR yang berbasis kebutuhan nyata akan memberikan efek berlipat (multiplier effect). Selain meningkatkan kapasitas masyarakat dan mitra usaha, pendekatan tersebut juga membangun kepercayaan publik terhadap perusahaan.
“Yang jelas, kinerja CSR memiliki multi efek yang sangat luar biasa. Ketika interaksi dengan masyarakat dibangun secara konsisten, akan lahir kepercayaan yang besar dan pada akhirnya memudahkan perusahaan menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan,” pungkasnya.
