berita realitapost

Filosofi Wayang Dalam Bisnis: Praktisi Ingatkan CSR Bukan Alat “Kosmetik” Pencitraan

BENGKULU, REALITAPOST.COM — Praktik Corporate Social Responsibility (CSR) belakangan ini sering kali terjebak pada sekadar pembentukan citra instan atau “kosmetik” perusahaan. Menanggapi fenomena tersebut, praktisi CSR Fahmi Sutan Alatas mengingatkan bahwa esensi dasar dari CSR adalah komitmen etis yang mengacu pada aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

Menurut Fahmi, indikator keberhasilan etis sebuah perusahaan terletak pada keterikatan (engagement) program CSR mereka dengan standar global, yaitu Sustainable Development Goals (SDG) dan ISO 26000.

“CSR itu adalah interface-nya, programnya. Di situ akan sangat terlihat jelas mana perusahaan yang benar-benar menerapkan komitmen SDG atau ISO 26000, dan mana yang tidak,” ujar Fahmi.

Untuk mempermudah pemahaman mengenai reputasi, Fahmi menggunakan analogi pementasan wayang kulit. Citra (image) sebuah perusahaan ibarat bayangan yang jatuh pada layar (screen) dalang.

“Kalau bentuk fisik wayangnya jelek, misalnya tangannya patah, maka bayangan yang muncul di layar pasti ikut patah. Secara filosofis, image itu bukan diciptakan secara instan, melainkan diproyeksikan dari realitas,” jelasnya.

Artinya, perusahaan tidak akan bisa memproyeksikan citra yang bagus jika kondisi internal dan operasional bisnisnya buruk. Rekayasa informasi atau pemberitaan CSR yang dipaksakan hanya akan melahirkan mistifikasi kesadaran publik yang semu.

Fahmi menegaskan, fondasi utama reputasi yang sehat harus dimulai dari perbaikan nyata di seluruh lini operasional perusahaan antara lain, Kepada Pelanggan dimana memberikan layanan dan produk terbaik yang adil.

Lalu, kepada karyawan yang mampu memenuhi hak-hak pekerja secara transparan. Dan terakhir, kepada Stakeholder & Lingkungan dimana menghormati hak masyarakat sekitar, seperti tidak menggunakan lahan warga tanpa pembayaran yang sah.

“Bagus dulu operasional dan bisnisnya, baru kita proyeksikan melalui amplifikasi komunikasi. Bagaimana cara mengamplifikasinya? Itu kembali ke strategi masing-masing perusahaan,” pungkas Fahmi.

Ia juga mengajak media dan masyarakat untuk lebih kritis mendalami setiap pemberitaan CSR agar tidak terkecoh oleh sekadar pencitraan di permukaan.

Exit mobile version