berita realitapost

Guru Besar Unib Kembangkan Tanaman Adaptif Lahan Kering dengan Bioteknologi

banner 120x600

REALTIAPOST.COM, BENGKULU — Guru besar Universitas Bengkulu Prof. Rustikawati mengembangkan riset tanaman adaptif untuk mengoptimalkan pertanian di lahan kering dan wilayah pesisir.

“Fokus penelitian kami adalah menghadirkan varietas tanaman yang mampu bertahan dan tetap produktif di lahan kering dengan berbagai cekaman lingkungan,” kata Guru Besar Bidang Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Prof. Rustikawati di Bengkulu, Kamis.

Dalam orasi ilmiah berjudul pengembangan tanaman adaptif lahan kering dengan bioteknologi saat pengukuhan guru besar di Universitas Bengkulu ia memaparkan arah penelitian yang telah dirintis sejak tahun 2000.

Penelitian difokuskan pada pengembangan varietas yang tahan terhadap tanah masam kekeringan dan salinitas di wilayah pesisir. Menurut dia lahan kering merupakan sumber daya strategis yang belum dioptimalkan secara maksimal.

Dari total 191,1 juta hektare daratan Indonesia hampir separuhnya merupakan lahan kering dengan berbagai kendala seperti kemasaman tanah, rendahnya kandungan bahan organik, dan keterbatasan air.

Dia menilai pendekatan input tinggi seperti pemupukan kimia dan irigasi intensif sering kali tidak efisien bagi petani kecil karena meningkatkan biaya produksi serta berpotensi menurunkan kualitas lingkungan. Karena itu riset diarahkan pada pendekatan berbasis genetik dan bioteknologi untuk menghasilkan varietas yang toleran terhadap cekaman lingkungan.

Bersama tim peneliti, dia telah menghasilkan sejumlah varietas unggul yang terdaftar resmi antara lain jagung UNIB CT9, cabai UNIB CHR17, cabai Maxima dan cabai UNIB CHR23 yang adaptif pada lahan kering asam.

Penelitian juga melahirkan jagung UNIB CT30 dan cabai rawit UNIB H3 untuk wilayah pesisir salin dengan potensi hasil lebih tinggi dibanding varietas komersial.

Untuk mempercepat proses seleksi tanaman, penelitian didukung pemanfaatan penanda DNA seperti RAPD dan SSR. Teknologi itu digunakan untuk mendeteksi mutan jagung mengidentifikasi karakter toleransi penyakit serta menyeleksi cabai toleran aluminium sehingga pemuliaan tanaman menjadi lebih presisi.

Sebagai bagian dari diseminasi hasil riset, ia menerbitkan buku “Cabai merah teknologi produksi di lahan kering masam” sebagai jembatan antara laboratorium dan praktik petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *