REALITAPOST.COM, KEPAHIANG — Aroma harum bawang goreng yang menyeruak dari sebuah rumah produksi sederhana di Desa Kutorejo, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, bukan sekadar penanda aktivitas dapur biasa. Dari tempat inilah denyut nadi perekonomian warga lokal, khususnya kaum perempuan, dipompa hingga mampu menembus pasar nasional.
Di balik keharuman bisnis tersebut, ada sosok Ida Royani. Pada 28 Juni 2018, Ida menginisiasi berdirinya Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning TunKeme. Nama “TunKeme” sendiri diambil dari bahasa Rejang yang bermakna kebersamaan—sebuah fondasi sosial yang kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi riil di daerah tersebut.
Gagasan merintis usaha ini bermula dari kejelian Ida dalam melihat peluang. Kepahiang dikaruniai iklim yang ramah bagi budidaya bawang merah varietas Batu Hijau. Hasil panen petani melimpah, namun nilai tambahnya (added value) kerap minim jika hanya dijual sebagai komoditas mentah.
Melihat potensi tersebut, Ida merangkul ibu-ibu di sekitarnya untuk mengolah hasil panen menjadi produk siap konsumsi. Bermodalkan olahan awal sekitar 10 hingga 20 kilogram bawang, mereka mencoba peruntungan pasar. Respon positif konsumen menjadi sinyal hijau bahwa produk olahan mereka memiliki daya saing (competitiveness).
“Dulu kami mulai sebelum pandemi melanda, kondisi bahan baku dari petani sekitar sangat melimpah. Kami mencoba mengolahnya dan alhamdulillah direspon baik oleh pasar,” kenang Ida saat ditemui di sela pameran UMKM di halaman Kantor Bupati Kepahiang, Senin (7/9/2026).
Badai pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan sektor usaha tak lantas membuat KWT Kemuning patah arang. Dengan menerapkan prinsip resiliensi bisnis dan semangat gotong royong, mereka tetap menjaga kualitas produksi.
Langkah strategis terus diambil. Pada kurun 2021-2022, KWT Kemuning berfokus pada perluasan jangkauan pasar dan peningkatan kapasitas SDM (karyawan). Usaha tak mengkhianati hasil; pada tahun 2023 mereka memperoleh bantuan Bangsal Pasca Panen Hortikultura dari Kementerian Pertanian untuk efisiensi operasional, serta berhasil memboyong penghargaan piala Paramakarya 2023 di tingkat nasional.
Salah satu keunggulan kompetitif dari produk KWT Kemuning adalah penerapan hilirisasi berbasis bahan baku organik. KWT Kemuning bermitra langsung dengan kelompok tani penyedia bawang organik lokal. Kemitraan ini menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan (sustainable ecosystem) dan saling menguntungkan (win-win solution).
Proses produksinya pun dijaga ketat: menggunakan minyak goreng kemasan berkualitas sekali pakai, serta mengandalkan mesin peniris minyak (spinner) untuk menekan kadar minyak berlebih. Hasilnya adalah bawang goreng yang gurih, renyah (kriuk), dan tahan lama tanpa menghilangkan cita rasa khasnya.
Tak puas hanya di satu produk, inovasi terus digencarkan. Melalui platform digital dan website resminya, KWT Kemuning menyajikan variasi produk unggulan, seperti : BAMER (Bawang Merah Original) & BADAS (Bawang Merah Pedas), BAPUT (Bawang Putih) & SAHMA Bawang, Batri (Bawang Goreng Ikan Teri) & Batridas (Ikan Teri Pedas). Inovasi turunan lain seperti Minyak Bawang, Pasta Bawang, Permen Jahe, Kopi Bubuk Gongseng, Asinan, hingga cemilan kerupuk kulit tenggiri (Ommey).
Naik Kelas Berkat Legalitas dan Digitalisasi
Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu turut ambil bagian dalam mendorong KWT Kemuning “naik kelas”. Melalui pendampingan inkubasi UMKM, KWT Kemuning kini telah melengkapi legalitas usahanya secara utuh.
Mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), izin P-IRT, Sertifikasi Halal, izin edar BPOM, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) atas hak paten merek dari Kemenkumham sudah dikantongi. Kelengkapan legalitas ini menjadi paspor utama bagi produk Kepahiang ini untuk menembus pasar ritel modern dan marketplace digital.
Dengan memanfaatkan saluran pemasaran online (e-commerce) dan pemasaran berbasis website, kini kapasitas produksi KWT Kemuning melonjak drastis. Dari yang semula belasan kilo, kini rata-rata permintaan mencapai 500 kilogram hingga 1 ton per bulan.
“Dukungan Bank Indonesia dan pemerintah daerah adalah bukti nyata hadirnya perekonomian yang inklusif. Kami sangat berterima kasih dan siap melangkah lebih jauh lagi untuk memberi dampak sosial positif bagi masyarakat,” pungkas Ida optimis.
Kisah KWT Kemuning TunKeme memperlihatkan bahwa UMKM berbasis komunitas bukan sekadar penopang ekonomi keluarga, melainkan motor penggerak perekonomian daerah yang mampu berdaya saing nasional jika dikelola dengan inovasi, kemitraan, dan legalitas yang teruji.

