berita realitapost

Lewat JFC Batch 3, GWPP Dorong Jurnalis Bengkulu Keluar dari Pola Pikir Seremonial

BENGKULU, REALITAPOST.COM — Ketua SMSI Provinsi Bengkulu Dr. Herawansyah, menyatakan bahwa pemberitaan mengenai kegiatan seremonial pemerintah hingga kini masih mendominasi ruang media lokal. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena banyaknya agenda resmi pemerintah, faktor kerja sama, serta kecenderungan wartawan yang berada di zona nyaman.

“Pemerintah masih menjadi obyek pemberitaan yang dominan. Tetapi di sisi lain bisa juga karena wartawan berada di zona nyaman, lebih suka menunggu berita dibanding membuat berita,” ujar Dr. Herawansyah ditemui media ini beberapa waktu silam.

Ia menambahkan, tuntutan target kuantitas berita harian sering membuat jurnalis lebih memilih meliput kegiatan yang sudah terjadwal jelas ketimbang mengeksplorasi isu secara mandiri.

Senada dengan Dr. Herawansyah, Ketua PWI Provinsi Bengkulu, Marsal Abadi, menilai berita kegiatan tetap penting untuk edukasi publik. Namun, ia menekankan bahwa tantangan terbesar media saat ini adalah menjaga idealisme jurnalistik di tengah tekanan bisnis dan pemenuhan kebutuhan pendapatan (income).

BACA JUGA !!!!

Menenun Asa “Bersama Untuk Indonesia”: Mengupas Kedalaman Inisiatif CSR TBIG dan Esensi Jurnalisme Berkelanjutan di JFC Batch III

Buka JFC Batch III, Nurchollis Basyari Kupas Tuntas Peran Pers di Era Disrupsi

“Tantangan terbesar adalah ketika media hanya menampilkan berita seremonial tanpa ada update yang berkelanjutan,” katanya.

Persoalan dominasi berita seremonial ini menjadi pembahasan dalam program Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch 3. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) yang bekerja sama dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Program ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dalam memproduksi karya jurnalistik mendalam.

Dalam sesi pembekalan, praktisi media Nurcholis MA Basyari mengingatkan para jurnalis untuk mengubah pola pikir peliputan. Ia menekankan bahwa loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga, sehingga berita harus berfokus pada dampak dan relevansinya bagi publik.

“Jurnalis harus mampu mencari signifikansi sebuah peristiwa bagi masyarakat. Berita yang baik tidak hanya berfokus pada unsur what (apa kegiatannya), tetapi juga menggali unsur why (mengapa kegiatan tersebut penting),” pungkas Nurcholis. (DM)

Exit mobile version