REALITAPOST.COM, BENGKULU – Kondisi ekonomi yang belum stabil kian memperparah penderitaan masyarakat. Lonjakan harga bahan pokok di pasar membuat uang Rp 50 ribu di tangan ibu rumah tangga kini sudah tidak ada artinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi ini diperparah dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di mana-mana, lapangan kerja yang makin suram, dan tidak sedikit perusahaan di Bengkulu yang gulung tikar. Ditambah pemangkasan anggaran Transfer ke Daerah (TKDD) oleh Pemerintah Pusat ke Daerah yang membuat ekonomi daerah menjadi lesu.PNS yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi rakyat dan UMKM pun kini menahan diri untuk berbelanja. Dampak pemangkasan TKDD berimbas pada pemotongan Tunjangan Tambahan Penghasilan (TPP) mereka, sehingga perputaran uang di sektor UMKM rakyat ikut tersendat.
Hasil survei tim redaksi realitapost.com di Pasar Panorama, Senin (12/9) malam, menunjukkan lonjakan harga terjadi pada komoditas strategis.Harga Cabe Merah Keriting (CMK) sudah tembus Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per kilogram. Tak hanya CMK, harga sayuran juga mengalami kenaikan dengan rata-rata naik sekitar Rp 2.000 hingga Rp 3.000, seperti pada komoditas kentang.
Naiknya harga CMK di saat kondisi ekonomi sedang sulit membuat emak-emak Bengkulu meradang. Pemasukan harian suami dinilai tidak sebanding dengan realita kenaikan harga saat ini.Salah satu warga Bentiring, Octaviani, mengaku harus menghemat belanja harian akibat kenaikan tersebut.
“Naiknya CMK ini terasa. Kalau kita beli sekilogramnya 80.000 kita cuman dapat belanja kebutuhan lain sedikit. Apalagi pemasukan bulanan suami ini tak sebanding dengan biaya kehidupan sehari-hari. Artinya kondisi sekarang memang benar-benar sulit,” katanya.
Dampak kenaikan juga dirasakan pelaku UMKM. Tedi Suryadi, pedagang UMKM nasi bakar yang menjadikan CMK sebagai bahan utama, terpaksa meliburkan usahanya.
“Sudah dua minggu kami off bang. Kalau kami paksa beli CMK dengan harga segitu dan harga nasi bakar tidak kami naikan maka kami akan rugi. Jadi untuk menjaga agar pelanggan tak lari sementara kami off dulu sampai kondisi harga CMK benar-benar membaik,” tutupnya.
Kondisi ekonomi yang tak menentu ini dinilai semakin menekan rakyat kelas menengah ke bawah, di saat harga kebutuhan pokok naik, sementara pendapatan tetap bahkan cenderung menurun.
