JAKARTA — Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, laut adalah halaman rumah yang akrab dengan keseharian mereka. Namun, di balik keindahan birunya ombak Kepulauan Nias dan Mentawai, tersimpan sebuah perjuangan sunyi yang harus dihadapi warganya setiap hari, keterbatasan akses kesehatan di tengah bayang-bayang penyakit menular dan stunting.
Jarak yang membentang dan medan yang menantang kerap membuat fasilitas medis terasa begitu jauh. Berangkat dari realitas tersebut, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali meluncurkan program “Bangun Sehat Bersama.” Program ini menerjunkan tim relawan kesehatan langsung ke wilayah-wilayah pesisir terluar Indonesia guna membawa misi medis dan secercah harapan.
Perjalanan kemanusiaan ini bergerak menyusuri dua kepulauan yang sedang berjuang melawan tantangan kesehatannya masing-masing. Di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, badai penyakit seperti malaria, tuberkulosis (TBC), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga demam berdarah dengue (DBD) masih membayangi warga.
Berdasarkan data BPS tahun 2024, tercatat ada 277 kasus DBD dan 298 kasus TBC di Kota Gunungsitoli. Belum lagi ancaman stunting yang menyentuh angka sekitar 500 kasus berdasarkan audit tahun 2024. Sementara di Nias Utara, laporan Dinas Kesehatan setempat mencatat lonjakan hingga 1.088 kasus suspek malaria sepanjang tahun 2025.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Wilayah ini tengah berpacu dengan waktu untuk menekan angka stunting. Meski berhasil turun dari 35 persen pada tahun 2023 menjadi 32 persen pada tahun 2024 berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka tersebut masih menempatkan Mentawai dalam zona merah yang membutuhkan perhatian serius.
Pada akhir Juli 2026, posko-posko kesehatan darurat mulai berdiri di kantor-kantor desa. Di Nias, tim relawan menyambangi Desa Olora dan Desa Lasara Bahili di Kota Gunungsitoli, merangkul sedikitnya 800 penerima manfaat. Sementara di Mentawai, langkah preventif digelorakan di Desa Tuapejat dan Desa Nemnem Leleu.
Tidak hanya membawa obat-obatan dan bantuan sembako, para relawan fokus pada senjata paling ampuh dalam dunia medis: edukasi pencegahan. Warga diajarkan kembali pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta kebersihan diri (personal hygiene). Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun rupanya menjadi benteng pertama pencegahan infeksi berulang yang memicu stunting pada anak.
“Melalui edukasi kesehatan seperti ini, masyarakat mendapatkan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar dr. Marfiraturrahma Zeda, dokter Puskesmas Gunungsitoli yang memilih terjun menjadi relawan.
Hal yang sama ditegaskan oleh Gangga Ali, seorang perawat dari RSUD Mentawai. Menurutnya, layanan pemeriksaan gratis harus berjalan beriringan dengan pemahaman masyarakat. “Ini adalah langkah preventif sederhana untuk mencegah berbagai penyakit besar,” kata Gangga.
Mendengar imbauan tersebut, Sherly Marlinda selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, meminta masyarakat untuk tidak lengah.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan bertindak cepat apabila muncul gejala infeksi saluran pernapasan. Terapkan PHBS, gunakan masker di tempat umum, dan rajin mencuci tangan,” tegasnya.
Bagi warga lokal seperti Yuliana dari Desa Tuapejat, kehadiran tim medis ini menjadi sebuah berkah nyata di tengah pulau.
“Terima kasih kepada Tower Bersama Group atas edukasi kesehatan dan bantuan yang kami terima. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan,” ucap Yuliana dengan mata berbinar.
Dari kacamata manajemen, program ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban sosial, melainkan sebuah investasi kemanusiaan jangka panjang. Chief of Business Support Officer TBIG, Lie Si An, meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di lingkungan keluarga.
“Melalui edukasi PHBS, kami berharap program ini mendorong terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan,” tutur Lie Si An.
Komitmen ini tidak berhenti di dua pulau saja. Sepanjang bulan Agustus 2026 ini, TBIG menargetkan perluasan jangkauan ke 81 lokasi yang tersebar di 62 kabupaten/kota di 29 provinsi.
Menutup rangkaian program, Presiden Direktur TBIG, Herman Setya Budi, menegaskan bahwa kehadiran infrastruktur telekomunikasi perusahaan harus berjalan selaras dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. Melalui empat pilar CSR mereka—kesehatan, pendidikan, budaya, dan lingkungan—TBIG berkomitmen menjalin kolaborasi erat dengan pemerintah daerah.
“Upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan yang konsisten melalui edukasi dan pencegahan. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” pungkai Herman.
