berita realitapost

Refleksi Menuju 100 Hari Kinerja Kasatpol PP Sahat Situmorang, Dilanjutkan Atau Diganti

OPINI, BENGKULU —  Sejak resmi dilantik oleh Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi pada 4 November 2025 lalu. Nama Sahat Situmorang seolah menjadi magnet perhatian publik. Menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Bengkulu, Sahat tidak datang untuk sekadar duduk di balik meja. Justru bisa dikatakan hampir jarang sekali duduk di kursi bersama meja kerjanya di Kantor Satpol PP yang baru. Kini, tepat menuju 100 hari perjalanannya memimpin pasukan penegak Perda, banyak apresiasi dan kontroversi datang silih berganti.

Namun hal itu tidak menyulutkan langkahnya untuk terus menjalan tugas dengan profesional dan maksimal. Tangan dingin Sahat telah menyentuh setidaknya 60 titik masalah menahun pelanggaran Perda yang selama ini dianggap “benang kusut” di Kota Bengkulu perlahan teruraikan.

Mulai dari penataan kawasan pasar minggu, pasar panorama dan pasar jangkar yang selama ini semrawut, perlahan wajah pasar tersebut mulai berubah lebih baik dan bersih serta tertib. Lalu, bersama jajaran dinas terkait penataan dan pembersihan kawasan wisata dari ego sektoral pedagang membuat nama baik kota bengkulu tercoreng pun kini mulai menunjukan angin segar perubahan. Dan hingga pengembalian fungsi sarana publik seperti trotoar agar kembali ramah bagi warga pejalan kaki mulai dirasakan.

Baru-baru ini juga, Kasatpol PP Sahat yang sudah galau dengan temuan 2 kasus HIV di kawasan Kopi Pangku Betungan beberapa waktu silam akhirnya mencoba berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan sidak ke sejumlah tempat hiburan apakah kasus HIV ini bertambah atau tidak. Ternyata dalam sidak tersebut di salah satu jasa hiburan dan kesehatan, terungkap kasus HIV/AIDS di Kota Bengkulu telah mencapai 1.213 kasus.

Bahkan dalam satu bulan saja sudah terungkap 10 kasus HIV/AIDS terjadi ditahun 2026 ini. Lalu, bisa dibayangkan bila sampai satu kedepan maka besar kemungkinan angka lonjakan kasus penyebaran HIV/AIDS kian menjadi tamparan dan pengingat keras bagi penegak norma dan Perda bila tidak disikapi secara serius secara bersama-sama.

Hujan Pujian, Badai Cacian

Langkah lurus Sahat tentu tak selamanya mulus. Baginya, penegakan Perda adalah harga mati, meski risiko yang dihadapi tidaklah ringan. Pujian datang dari warga yang merindukan ketertiban, namun tak sedikit pula cacian hingga resistensi dari pihak-pihak yang merasa ruang geraknya terganggu.

“Saya hanya menjalankan tugas. Penegakan aturan memang terkadang terasa pahit bagi sebagian orang, tapi ini demi kebaikan wajah kota kita. Nyawa pun saya pertaruhkan demi 438 ribu jiwa lebih warga kota Bengkulu. Apalagi dalam sumpah jabatan jelas diikrarkan untuk siap mengabdi bagi bangsa dan negara serta kepentingan masyarakat,” ungkap Sahat saat dikonfirmasi mengenai dinamika di lapangan.

Filosofi “Siap Kapan Saja”

Ditengah banyak pro dan kontra atas kegiatan yang sudah dilakukannya selama menjabat Kasatpol PP. Sahat menunjukkan sikap tenang dan dingin sebagai seorang pejabat yang sedang berada tegak pada tupoksi dan regulasi.

Bahkan Ia tidak menunjukkan ambisi untuk mempertahankan kursi, melainkan kesetiaan pada mandat pimpinan. Sehingga andai pun pimpinan menghendakinya tidak lagi sebagai Kasatpol PP, akan dia terima dengan iklas dan lapang hati.

“Saya ikhlas dengan apa pun yang diputuskan pimpinan. Selama masih dipercaya, saya akan bekerja maksimal dan profesional. Tapi, jika detik ini pun saya diganti, saya selalu siap,” tegasnya dengan nada tenang namun penuh keyakinan.

Bagi Sahat, jabatan adalah alat pengabdian, bukan tujuan akhir. Profesionalisme yang ia tunjukkan menjadi standar baru bagi instansi penegak Perda di Bengkulu.

Publik Berandai-Andai

Kini, Jika publik boleh berandai-andai, muncul pertanyaan besar. Apakah Satpol PP Kota Bengkulu masih membutuhkan sosok bertangan besi namun berhati ikhlas seperti Sahat Situmorang? Atau perlukah ada regenerasi dengan gaya kepemimpinan yang berbeda?

Dengan 60 titik masalah yang mulai terurai, menuju 100 hari Sahat Situmorang telah meletakkan fondasi yang kuat. Namun, apakah fondasi ini akan terus dibangun oleh orang yang sama, atau justru berganti nakhoda di tengah jalan? Hanya waktu dan keputusan pimpinan yang akan menjawabnya.

Satu yang pasti, di bawah komando Sahat, Satpol PP bukan lagi sekadar “penjaga gerbang”, melainkan instansi yang berani menegakkan Perda, meski itu pahit untuk didengar dan dirasakan banyak pihak namun setidaknya sudah banyak perubahan yang telah dirasakan banyak pihak. Sahat Sitomorang hadir bukan sebagai pejabat lainnya yang bisa memberikan banyak kepuasan kepada masyarakat atas kinerja. Namun dengan bukti kinerja yang sudah dia lakukan selama ini menjadi bukti bahwa setiap amanah harus dijalankan secara profesional dan keiklasan yang besar. Kalimat ini terdengar mudah diungkapkan namun sulit di praktekan banyak orang.

salam hormat penulis

Damar

Redaktur Dian Marfani

Exit mobile version