Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu —Panjang Bengkulu menjadi destinasi wisata bahari unggulan yang menarik kunjungan wisatawan dengan peningkatan 15% pada tahun 2025 dibanding tahun sebelumnya. Namun, lonjakan kunjungan ini juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama tenggelam, akibat minimnya pengetahuan masyarakat dan pengelola tentang pertolongan pertama pada korban tenggelam.
Pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan di Pantai Panjang dilaksanakan oleh mahasiswa Jurusan Sosiologi angkatan 2023, khususnya peserta mata kuliah Sosiologi Pariwisata. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan realisasi pembelajaran dari ruang kelas ke lapangan, sekaligus upaya untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan wisatawan di kawasan pantai.
Pada Jumat, 21 November 2025, Pukul 09.00-11.00 WIB, Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu, menggelar pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) di kawasan Pantai Panjang. Kegiatan ini diinisiasi oleh Mahasiswa Angkatan 2023 pada matakuliah sosiologi pariwisata dari Jurusan Sosiologi Universitas Bengkulu, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bengkulu dan didukung oleh pemerintah setempat. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Lurah Lempuing, Bapak Guri Srihono, pada pukul 09.00 WIB. di Balai Desa Lempuing. Lurah menekankan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kejadian darurat di kawasan wisata pantai.
Pelatihan diikuti oleh 15 peserta, terdiri dari pengelola pantai, petugas keamanan, masyarakat lokal, nelayan, pedagang, dan relawan. Mereka dipilih sebagai garda terdepan dalam penanganan kejadian darurat di Pantai Panjang.
Materi pelatihan disampaikan langsung oleh pemateri N.S Padli S.Kep M.M, dengan metode teori dan praktik. Materi mencakup definisi tenggelam, langkah-langkah pertolongan pertama, simulasi praktik menggunakan alat bantu, teknik evakuasi korban, serta prosedur Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Peserta dilatih untuk mengevakuasi korban dari air dan memberikan pertolongan pertama di tepi pantai, termasuk pemeriksaan kesadaran, pernapasan, dan tindakan RJP jika diperlukan. Simulasi praktik dilakukan dengan berbagai skenario, seperti korban tidak sadar, kesulitan bernapas, atau mengalami luka-luka.
Pelatihan juga mencakup edukasi tentang pentingnya keselamatan penolong, menjaga ketenangan, dan memperhatikan lingkungan sebelum melakukan penyelamatan. Peserta diberikan pemahaman tentang risiko yang dihadapi dan bagaimana mengantisipasinya.
Setelah pelatihan, dilakukan evaluasi melalui kuesioner dan observasi. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan peserta terkait penanganan korban tenggelam. Masyarakat menjadi lebih paham tentang prosedur pertolongan pertama, teknik evakuasi, serta pentingnya koordinasi dengan layanan medis.
Kegiatan ini mendorong kolaborasi lebih erat antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga relawan, sebagai fondasi program keselamatan wisata yang berkelanjutan di masa depan.
Pelatihan ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif dan praktik langsung sangat efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kejadian darurat di kawasan wisata pantai.
Dianjurkan pelaksanaan pelatihan serupa secara berkala dan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan wisata yang aman dan berkelanjutan.
Dengan demikian, risiko kecelakaan tenggelam di Pantai Panjang dapat diminimalisasi, dan keselamatan pengunjung dapat terjamin, serta kenyamanan wisatawan sebagai destinasi bahari dapat terus ditingkatkan.
