BENGKULU, REALITAPOST.COM — Kawasan hutan yang tersisa di Provinsi Bengkulu memiliki peranan yang sangat krusial, karena dinilai merupakan benteng terakhir di tengah pusaran krisis iklim.
Apalagi cuaca ekstrem yang kerap melanda Bengkulu, berdasarkan data BMKG dipicu aktivitas tiga bibit siklon tropis di Samudra Hindia, termasuk bibit siklon 90S yang membawa angin kencang hingga 35 knot serta hujan lebat.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi mengatakan, perubahan iklim kini menjadi kenyataan yang tidak dapat dielakkan, dan dampaknya terasa semakin dekat sehingga mendesak kita untuk beradaptasi.
“Siklon tropis seperti Senyar memang tidak dapat dikendalikan, tetapi dampak kerusakan yang ditimbulkannya masih bisa diantisipasi,” ungkap Adi, Rabu 11 Maret 2026.
Adi menegaskan, kawasan hutan memiliki peran penting dalam menghadapi dampak krisis iklim. Mengingat hutan merupakan tameng alami yang melindungi masyarakat dari berbagai risiko bencana ekologis.
“Hanya saja tameng tersebut kini semakin rapuh akibat perambahan dan alih fungsi lahan. Karena itu, upaya menjaga hutan harus menjadi tanggung jawab bersama,” kata Adi.
Menurut Adi, keberadaan hutan saat ini juga menghadapi berbagai ancaman. Menjelang musim kemarau, ancaman yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Berdasarkan analisis citra satelit yang kita lakukan awal tahun ini, tercatat sebaran titik api di berbagai kabupaten/kota di Bengkulu,” sampai Adi.
Adi menambahkan, total ditemukan 67 titik api, dengan 3 diantaranya berkategori confidence high. Data ini menjadi peringatan bahwa pada musim kemarau 2026 potensi kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi secara serius.
“Mengingat pentingnya peran hutan dalam menghadapi perubahan iklim, kita bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan melakukan berbagai upaya untuk memperkuat perlindungan hutan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat,” tambah Adi
Upaya ini, sambung Adi, mencakup penguatan mitigasi kebakaran hutan melalui pembentukan kelompok masyarakat patroli hutan, fasilitasi pengusulan perhutanan sosial di enam desa pada tiga kabupaten di Bengkulu, serta penguatan tata kelola hutan yang lestari.
“Ini juga diperkuat melalui penguatan tata kelola perhutanan sosial,” papar Adi.
Lebih lanjut Adi mengemukakan, program ini juga mendorong pendekatan ekonomi konservasi melalui pemberian insentif bagi masyarakat yang menjaga hutan. Upaya adaptasi perubahan iklim juga dilakukan melalui penanaman mangrove

















