berita realitapost

Acara Bincang Bareng Media, BI Bengkulu Beberkan Strategi Stabilkan Kurs Rupiah

Wahyu : Kebijakan Moneter Penuh Kehati-hatian

Realitapost.com, Bengkulu — Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) demi membentengi nilai tukar Rupiah dan menjinakkan inflasi di tengah meningkatnya tensi geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global.

Langkah strategis ini memperpanjang tren pengetatan moneter BI yang secara akumulatif telah mengerek suku bunga hingga 550 bps.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah antisipatif yang terukur.

Fokus utamanya adalah menjaga daya saing instrumen keuangan domestik agar tetap memikat di mata investor global.”Stabilitas nilai tukar adalah kunci.

Surat berharga Indonesia harus tetap kompetitif agar aliran modal asing tidak keluar secara masif (capital outflow) dan Rupiah terhindar dari tekanan yang berlebihan,” ujar Wahyu pada Selasa (9/6/2026), di sesi Bincang Bareng Media yang dipusatkan di Mega Mall Bengkulu.

Wahyu memaparkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini dipicu oleh tiga faktor utama yang terjadi secara bersamaan antara lain.

Konflik Geopolitik Dunia dimana ketegangan global memicu lonjakan harga minyak mentah, yang otomatis mendongkrak kebutuhan dolar AS untuk kebutuhan impor energi.

Lalu, Musim Dividen dimana Banyak perusahaan domestik yang mulai membagikan keuntungan kepada investor asing, sehingga memicu konversi Rupiah ke dolar AS dalam jumlah besar.

Ketiga, Pembayaran Utang yang mana adanya siklus pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo dan membutuhkan likuiditas valuta asing yang tinggi.

Kombinasi ini memicu efek domino berupa risiko imported inflation (inflasi barang impor). Jika Rupiah melemah tajam, biaya bahan baku industri yang bergantung pada impor akan membengkak, yang pada akhirnya membebani harga barang di tingkat konsumen.

Melalui kebijakan ini, BI optimistis dapat menjaga inflasi nasional tetap kokoh di kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Meski situasi global bergejolak, ekonomi daerah dinilai masih memiliki ruang tumbuh yang positif. Menyoroti kondisi lokal, inflasi di Provinsi Bengkulu pada Mei sempat menyentuh angka 0,86 persen akibat lonjakan harga kelompok pangan bergejolak (volatile food), khususnya cabai.

Namun memasuki bulan Juni, BI melihat indikator pemulihan yang cukup kuat.

“Kami memantau tren harga pangan mulai melandai seiring membaiknya pasokan dan kelancaran distribusi. Potensi inflasi Juni diperkirakan akan jauh lebih rendah dibanding bulan lalu,” kata Wahyu.

Ia menambahkan, Bengkulu berpeluang besar mempertebal ketahanan ekonominya dengan menggenjot ekspor komoditas unggulan dan mengoptimalkan sektor hortikultura sebagai mesin penghasil devisa baru.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah berkomitmen terus memperkuat sinergi kebijakan—mulai dari intervensi pasar yang terukur hingga optimalisasi cadangan devisa.

Keseimbangan nilai tukar akan terus dijaga secara presisi agar tidak menekan daya beli masyarakat, sekaligus tetap menjaga taji sektor ekspor demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.(Damar)

Exit mobile version