BENGKULU, REALITAPOST.COM — Pagi itu suasana di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu, Kelurahan Padang Serai, Kecamatan Kampung Melayu, masih menyisakan kepulan asap dan bau hangus. Sejumlah ruang kelas yang biasanya ramai suara anak-anak kini hanya tersisa puing dan atap yang ambruk.
Kebakaran yang melanda sekolah tersebut bukan hanya menghanguskan bangunan. Ia juga mengancam masa depan belajar ratusan siswa, khususnya siswa kelas VII dan IX yang ruang kelasnya paling terdampak.
Melihat kondisi itu, Evi Hasna, Anggota DPRD Kota Bengkulu dari Dapil III, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Ia datang meninjau lokasi dan berbicara langsung dengan pihak sekolah.
“Saya sangat prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa SMP Negeri 19. Yang paling penting saat ini adalah memastikan proses belajar mengajar tidak sampai terhenti akibat musibah ini,” ujar Evi, Selasa (21/7/2026).
Bagi Evi, pendidikan tidak bisa menunggu. Selagi proses rehabilitasi disiapkan, siswa tidak boleh kehilangan haknya untuk belajar.Ia berharap Pemerintah Kota Bengkulu segera menyiapkan solusi sementara. Mulai dari pengaturan ulang jadwal pembelajaran, memaksimalkan ruang kelas yang masih layak, hingga opsi belajar darurat lainnya.
“Kami tidak ingin anak-anak kehilangan waktu belajar. Pemerintah harus hadir cepat dengan langkah darurat sambil menunggu perbaikan permanen,” katanya.
Evi menegaskan kebakaran ini harus menjadi momentum untuk tidak hanya memperbaiki, tapi juga meningkatkan kualitas fasilitas SMPN 19.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, DPRD Kota Bengkulu, serta Dinas PUPR agar penanganan pascakebakaran ini menjadi prioritas. Fasilitas pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus segera dipulihkan karena yang terdampak adalah ruang kelas tempat anak-anak belajar,” tegasnya.
Politisi perempuan itu mendorong agar rehabilitasi dilakukan cepat, dan jika memungkinkan dilanjutkan dengan revitalisasi agar sekolah kembali memiliki ruang belajar yang aman dan nyaman.
Di tengah kerusakan, yang paling dikhawatirkan Evi adalah psikologis siswa. Kehilangan ruang kelas bisa memicu rasa cemas dan tertinggal pelajaran.”Kami berharap seluruh pihak dapat bergerak cepat sehingga aktivitas pendidikan di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu dapat kembali normal dalam waktu yang tidak terlalu lama,” pungkasnya.
Kini, bola ada di tangan Pemkot Bengkulu. Sementara para siswa SMPN 19 hanya bisa berharap, kelas mereka segera kembali — bukan sekadar dinding dan atap, tapi tempat mereka menimba ilmu tanpa rasa takut.
