berita realitapost

Indonesia di Ujung Jurang: Catatan Kritis Dian Marfani di Tengah Acaman Badai Ekonomi

banner 120x600

OPINI, BENGKULU – Rasanya berat menulis ini. Tapi diam juga bukan pilihan. Data dan fakta 2 bulan terakhir menunjukkan satu hal: Indonesia sedang berjalan di tepi jurang.Mulai dari Gubernur Bank Indonesia yang mundur, Rupiah yang kembali tembus Rp 18.000 per dolar, hingga mall-mall mulai dipagari karena sepi. Ini bukan sekadar berita ekonomi. Ini alarm.

Tokoh Muda Bengkulu, Dian Marfani, angkat bicara. Ia menyebut kondisi saat ini adalah akumulasi dari kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Kita sedang diuji. Rupiah tembus 18K, modal asing kabur, minyak dunia mau ke 120 dollar per barel. Sementara di dalam negeri, APBN terus digerus program MBG dan Kopdes. Lalu pemerintah minta BI cetak uang lewat skema ‘Burden Sharing’ SBN. Ini berbahaya. Itu sama saja mencetak masalah baru untuk anak cucu kita,” ujar Dian, Selasa (4/8/2026).

Dian menyorot 3 luka besar yang menurutnya paling terasa langsung ke masyarakat:Pertama, PHK dan Pemda Kolaps. Gelombang PHK masih terus terjadi. Di saat yang sama, 490 Pemda tidak bisa membayar gaji ASN karena efek pemotongan TKD. Ribuan P3K juga terancam dirumahkan.

“Guru, tenaga kesehatan, admin di kantor Pemda. Mereka ini tulang punggung layanan publik. Kalau mereka dirumahkan, siapa yang layani rakyat?” tanya Dian.

Kedua, Kepercayaan Internasional Runtuh. Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Investor asing terus keluar. “Kalau investor minggat, lapangan kerja baru dari mana? Kalau peringkat turun, utang kita makin mahal. Yang bayar siapa? Ya kita lagi, lewat pajak dan harga-harga,” tegasnya.

Ketiga, Negara Semakin Panik. Dian menyorot pelibatan Babinsa untuk kepatuhan pajak masyarakat. Baginya, ini sinyal negara mulai kehabisan cara halus. “Saya hormat pada TNI. Tapi pajak itu soal kesadaran dan kepercayaan. Bukan soal pendekatan keamanan. Kalau rakyat percaya uangnya dipakai benar, tidak perlu Babinsa yang nagih,” katanya.

Di tengah itu semua, ia juga menyentil soal kondisi politik. “Wapres kita MASIH G.” Kalimat itu ia ucapkan dengan nada kecewa. “Kita butuh kepemimpinan yang hadir, bukan yang absen saat badai. Rakyat butuh arah, bukan sekadar seremoni.”Dian tidak ingin pesimis. Tapi ia menuntut kejujuran dari negara. “Jangan bungkus defisit dengan jargon. Jangan tutup mall yang sepi dengan pagar.

Tutup lubang APBN dengan efisiensi, bukan dengan mencetak uang. Lindungi UMKM, bukan hanya program mercusuar.”Ia menutup dengan pesan untuk anak muda Bengkulu dan Indonesia.”Ini bukan waktunya nonton saja. Ini waktunya kritis, hemat, dan gotong royong. Kalau kita tidak jaga negara kita sekarang, siapa lagi? Jangan sampai kita baru sadar saat sudah benar-benar jatuh ke dalam jurang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *