BENGKULU, Realitapost.com – Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bengkulu dibawah kepemimpinan Ayu Laksmi Syntia Dewi, bersama jajarannya dituding bersikap arogan dan terkesan memalukan dengan main usir wartawan di WA Grup.
Hal itu bermula saat salah satu wartawan berna Ahmad Nasti Nasution yang tergabung dalam grup Media Mitra OJK, yang melayangkan pertanyaan terkait perbedaan data kantong darah dari kegiatan yang digelar OJK.
Alih alih menjawab pertanyaan krusial terkait data kegiatan sosial, seorang jurnalis justru “ditendang” (kick) keluar dari grup WhatsApp resmi media OJK.
Insiden ini dipicu oleh pertanyaan yang sangat mendasar konfirmasi data donor darah usai kegiatan seremonial dan aksi sosial rangkaian HUT OJK ke 14 beberapa waktu lalu.
Kejadian bermula ketika wartawan Ahmad Nasti Nasution mencoba memverifikasi adanya diskrepansi (ketidaksesuaian) data antara jumlah peserta donor darah yang diklaim OJK dengan stok darah yang tercatat masuk di Palang Merah Indonesia (PMI).
“Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Kami menemukan keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan stok darah, padahal OJK baru saja mengadakan aksi sosial. Kami hanya butuh verifikasi, mengapa hasil yang dicatat PMI sangat sedikit dibandingkan klaim pendonor?” ujar Nasti.
Namun, yang diterima Nasti bukanlah penjelasan profesional yang didukung data, melainkan respons emosional dan reaktif dari tim Humas OJK. Puncaknya, tanpa peringatan atau klarifikasi lebih lanjut, Nasti langsung dikeluarkan dari grup yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi resmi antara OJK dan awak media.
Tindakan ini dikecam keras sebagai bentuk arogansi kelembagaan dan sikap antikritik yang melanggar prinsip transparansi. Grup WhatsApp media, yang berfungsi sebagai sarana konfirmasi cepat demi akurasi berita, kini dinilai telah disalahgunakan sebagai alat pembungkam ketika Insiden ini menambah panjang keluhan awak media terhadap OJK Bengkulu yang selama ini dikenal sulit diakses dan tidak informatif.
“Tindakan menutup akses informasi dan menghalangi kerja jurnalistik ini sangat disayangkan. OJK adalah lembaga independen yang seharusnya menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas publik, bukan mempertontonkan perilaku sewenang-wenang,” tegas kalangan jurnalis.
Saat di hubungi via pesan singkat dan hingga berita ini diterbitkan, belum ada sepatah kata pun dari petinggi OJK Bengkulu untuk memberikan keterangan resmi atau pertanggungjawaban terkait tindakan represif yang dilakukan oleh jajarannya. (“x)
