REALITAPOST.COM, KOTA BENGKULU – Langkah nyata dalam memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat terus dilakukan oleh pelaku usaha properti di Bengkulu. Sebanyak 35 nasabah KPR dari PT Medan Jaya Properti resmi melakukan akad jual beli massal bersama Bank Syariah Nasional (BSN) di salah satu hotel ternama di Kota Bengkulu, Rabu pagi (22/4/2026).
Pimpinan PT Medan Jaya Properti, Edwar Setiawan, menjelaskan bahwa akad perdana ini merupakan tonggak penting bagi konsumen untuk mendapatkan kepastian hukum atas hunian mereka. Melalui proses akad dan akta jual beli ini, kepemilikan rumah KPR secara resmi berpindah ke tangan konsumen.
“Setelah akad ini, rumah sah menjadi milik konsumen. Selanjutnya, konsumen yang mengambil skema kredit akan melakukan pembayaran angsuran secara rutin langsung kepada BSN selaku pihak pemberi kredit,” ujar Edwar.
Edwar juga memastikan komitmen perusahaan terhadap kualitas bangunan. Ia menegaskan bahwa fasilitas pendukung yang belum rampung akan segera diselesaikan dalam waktu dekat. Selain itu, perusahaan memberikan garansi selama 100 hari bagi konsumen untuk mengajukan komplain terkait kondisi fisik rumah.
Mayoritas dari 35 nasabah yang melakukan akad massal kali ini merupakan pemilik hunian di lokasi Residance 3, Kelurahan Bentiring, Kota Bengkulu. Salah satu konsumen, Sri Wahyuni, mengaku sangat terbantu dengan kemudahan proses yang ditawarkan.
“Sangat senang bisa sampai di tahap ini. Persyaratannya tidak terlalu sulit, asalkan kita punya waktu luang untuk melengkapinya, semua berjalan lancar,” ungkap Sri.
Dukung Program Pemerintah dan Target Himperra
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari komitmen Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Bengkulu dalam menyukseskan program pemerintah pusat untuk menyediakan rumah layak huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Tahun ini, Himperra menargetkan pembangunan 2.000 unit rumah KPR yang tersebar di Kota Bengkulu, Rejang Lebong, Kepahiang, Seluma, hingga Bengkulu Tengah.
Namun, Edwar tidak menampik adanya tantangan besar di industri properti ke depan. Situasi geopolitik global dan konflik luar negeri yang belum mereda berdampak pada ekonomi nasional, termasuk kenaikan harga BBM yang memicu lonjakan harga material bangunan.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan jaminan atau penyesuaian harga sebagai kompensasi dari dampak ekonomi dan geopolitik saat ini, agar sektor properti tetap bisa menyediakan rumah terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.
